Alasan kenapa orang Jerman ada yang gak mau punya anak

 Nah, alasannya bisa merupakan gabungan atau salah satu dari deretan alasna berikut ini:

Disclaimer: ini super simplified dan generalisasi dari pemikiran orang Jerman yang saya kenal yang mungkin bagi sebagian orang kita dikenal sebagai ((open-minded)). 

1. Punya anak itu mahal.

Memang anak diberi uang oleh negara sampai usia 18 tahun. Besarannya sekitar 200–300€. Tapi itu menurut mereka masih engga cukup. 

2. Punya anak berarti harus pindah ke tempat tinggal yang lebih besar.

Harga apartemen seperti itu di Jerman ada di kisaran 900€. Bahkan di daerah yang masih desa pun harganya segitu. Apalagi di daerah yang ada perusahaan besar seperti BASF, SAP, Volkswagen, Deutsche Bank, dsb yang terkenal. Harga sewa apartemen bisa sampai 1.600€ dengan spek yang sama.

Sebagai perbandingan, UMR bersih di Jerman itu sekitar 1.500€. Sebenarnya ada bantuan apartemen bagi yang kurang mampu berupa pemotongan biaya apartemen dan disediakan pula apartemen murah.

Beli rumah is no longer an option. Bahkan mereka yang punya gaji 100.000€ per tahun pun kesulitan beli rumah karena harus bersaing dengan korporat dan big money ketika membeli properti.

Apalagi salary man yang kudu nyicil sampai 30 tahun buat punya apartemen kecil 2 kamar tidur ukuran 70 meter persegi. 



3. Harga Tagesmutter (ibu asuh) itu mahal sekali.

Karena kedua orang tua bekerja, maka anak perlu ada yang jaga. Biaya untuk ibu asuh per bulan adala 10€ per jam. Tinggal hitung saja berapa yang harus dibayarkan ketika kedua orang tua kerja full-time.

Solusi lainnya ada Kindertagesst├Ątte atau Day Care. Biaya bayar Day Care ini per anak sekitar 5€ per jam. 

4. Komitmen jangka lama

Banyak orang Jerman yang kumpul kebo. Punya anak hanya bikin susah kalau mau pisah. Apalagi kudu ngurus anak sampai usia minimal 18 tahun.

Co-parenting banyak dijalankan oleh mereka yang punya anak sama mantan pacarnya karena kecelakaan. Tapi kebanyakan ogah punya anak secara sadar. 

5. Penyakit

Banyak orang Jerman yang punya penyakit mental. Sebenarnya di Indonesia juga banyak tapi mungkin enggak terdata aja. Apalagi kalau ngeliat kelakuan warga yang unik-unik. Hahahaha

Orang Jerman enggan menurunkan gen penyakit baik kelainan fisik maupun mental ke anak mereka karena menganggap hal tersebut bikin susah dan bikin sengsara si anak.

Ngapain juga idup kalau ujung“nya depresyong? Life is already expensive as it is now and we are not even having a good time.

Begitulah kata mereka. 

6. Dunia udah kacau

Sebagian besar orang Jerman juga pakai alasan ini. Kalau cuma mau punya anak, mending adopsi dari anak-anak yang ga punya orang tua.

Punya anak malah nambah-nambahin masalah ke dunia. Dunia udah penuh sesak, semakin rusak, dan banyak orang ga ngotak. 

7. Mereka pikir enggak akan jadi orang tua yang baik

Ironisnya mereka yang punya pemikiran seperti ini sebenarnya malah akan jadi orang tua yang baik tapi mereka milih enggak mau punya anak.

Sedangkan orang yang rada-rada malah anaknya banyak. 

8. Tidak ada istilah „anak adalah investasi“

Anak ya anak yang punya kehidupan mereka sendiri. Orang tua bakal masuk ke panti jompo dan ketemu anak mereka paling sebulan sekali atau hari-hari besar saja.

Tidak punya anak pun tidak masalah karena nanti mereka tua akan diurus oleh negara dari uang yang mereka kumpulkan ketika muda. 

Begitu sudah.

Bagikan:

Posting Komentar

Top Ads

Middle Ads 1

Middle Ads 2

Bottom Ads