Pinjam ke Rentenir Riba Pinjam ke bank Juga riba

 ANTI RIBA

Saya udah lama ngikutin ini, sejak masih obrolan sampai jadi gerakan.

Nothing wrong about the community.

Yang jadi ganjalan itu ngga ada kontrol, filter, dan tata tertib. Semua bisa cerita, bisa sharing, dan kasih testimoni. Ngga ada moderasi, ngga ada kepengurusan.

Kesimpulan saya sampai sekarang, ini gerakan tak beraturan yang berisi doktrin berlebihan.

Semua ulama sepakat riba haram, tapi ulama beda pendapat tentang apa itu riba dan bagaimana sesuatu bisa dikatakan sebagai riba.

Mengembangkan narasi "saya pinjam ke bank dan bisnis saya hancur" tanpa ada keterangan lainnya, itu ngga fair.

Menjawab pernyataan, "banyak yang pinjam ke bank dan sukses" dengan jawaban "itu namanya istidraj" juga ngga adil.

Narasi-narasi semacam itulah yang selalu hadir jika berkaitan dengan pinjam bank adalah riba.

Ini yang saya katakan sebagai doktrin berlebihan.



Berapa banyak orang jual tanah untuk buka usaha dan usahanya gagal? Berapa banyak orang mencoba peruntungan lewat uang pensiun, dan hasilnya menyedihkan? Berapa ribu orang jalankan usaha dari harta warisan, tapi mengecewakan?

Realistis harus dikedepankan.

Dalam dunia bisnis ada terlalu banyak faktor penyebab gagal. Menilai gagal sebab pinjam ke bank itu kesimpulan yang terlalu dini, apalagi dibumbui adanya ketidakberkahan.

Saya curiga, ada pihak yang ngga ingin umat Islam terlalu ngebut perekonomiannya.

Ini ada triliunan dana di depan mata kok ngga diambil? Ya ngga ada yang mau wong disebut riba, dosa lebih besar dari zina dengan ibu kandung.

***

Kalau pinjam ke bank bukan riba, terus yang dimaksud riba itu seperti apa?

Yang dikatakan riba itu ketika kita pinjam dana ke rentenir, praktek seperti itulah yang dilarang dalam Islam.

Al Qur'an dan hadits yang berbicara tentang riba hadir untuk menyelamatkan umat dari praktek bahaya rentenir baik sebagai pelaku maupun pengguna.

Di masa itu, kalau kamu kasih pinjaman ke orang, kamu bisa berbuat semaumu terhadap orang yang kamu pinjami. Mau kamu rampas hak-haknya atau bahkan mau kamu tiduri, silahkan.

Inilah bentuk kezoliman riba yang dilawan oleh Nabi SAW.

Di era modern sekarang ini rentenir hadir dengan banyak wajah dan nama. Baik yang individu maupun organisasi/lembaga.

Gimana cara membedakan bank dan rentenir?

Sebetulnya ciri-cirinya gampang aja.

Rentenir ngga pakai credit scoring (apalagi BI checking), setiap yang datang pasti dikasih pinjaman. Banyak iklan 5 menit cair di pinggir jalan.

Rentenir meminta kembalian lebih besar dari inflasi. Pinjam 3 juta, kembalikan 4 juta.

Rentenir membuat mekanisme dan sistem semaunya sendiri ngga sesuai standar undang-undang.

Rentenir menagih dengan cara zolim. Di daerah-daerah memaksa minta aset, bahkan meminta keperawanan anaknya.

Rentenir menuntut berlebihan ke ahli waris (apabila debitur meninggal dunia), bahkan bentuk tuntutannya bisa mengadi-ngadi, dipaksa melaut dan 50% hasil tangkapannya diserahkan ke dia, atau yang semisal.

Rentenir menagih sambil lakukan teror dan ancaman. Yang diintimidasi bukan cuma debitur, tapi juga keluarga dan circlenya.

Rentenir mostly ada sistem bunga berbunga. Telat bayar dihitung denda harian pakai persen. Bunga-berbunga ini dimention khusus di Ali Imron 130. Ini termasuk praktek paling bejat sih. Orang jawa di kampung bilang "nganak'ke duit".

Yang mana semua ciri rentenir itu ngga ada di dunia perbankan.

***

Sesuatu yang minim madharat dalam kondisi tertentu menurut imam Malik bisa jadi salah satu penguat dalil.

Coba dilisting apa madharatnya bank secara perekonomian mikro dan makro?

Kalau menyandarkan kesalahan nasabah, ketidakmampuan nasabah, kelalaian nasabah sebagai madharat, jelas ini keliru.

Pernah tahu ngga, berapa persen rata-rata NPL atau non-performing loan alias debitur yang dianggap berpotensi gagal bayar di Indonesia?

Kenapa pertanyaan ini penting? Daripada repot-repot ngelist madharat bank, angka ini sudah cukup sebagai jawaban.

Saya udah lama cari-cari info ini, tapi sayangnya ngga ketemu.

Kalau ditelusuri sekarang, yang muncul di Google hanya data debitur gagal bayar di era pandemi.

Ada 10% debitur bank Mandiri di level NPL (berpotensi gagal bayar), tapi analisa Mandiri mengatakan hanya 10% (dari 10% NPL) yang benar-benar akan gagal bayar, sedangkan 90% nya macet disebabkan PSBB (masih ada potensi survive).

Artinya, kalau ada 10.000 debitur, ada 1.000 yang NPL, dan ada 100 yang benar-benar kolaps.

Nasabah yang bangkrut karena pinjam ke bank Mandiri ternyata cuma 1%. Sekali lagi, ini di era pandemi, di era sehat harusnya lebih bagus.

Berita dari bank BRI beda lagi, NPL cuma 2,5% di masa pandemi, yang betul-betul kolaps sangat amat dikit sekali.

Kalau ada yang punya data lebih lengkap terkait NPL ini, boleh dishare ya.

Seenggaknya dari data pandemi ini kita bisa baca bahwa madharat pinjam uang ke bank itu nyaris ngga ada.

Cerita-cerita tentang bangkrut karena pinjam dana di bank (yang dianggap riba) semakin membuktikan bahwa itu memang salah di pribadinya.

Kalau nanti ada yang katakan "saya bangkrut, teman saya bangkrut, saudara saya bangkut" ya itu panjenengan termasuk yang 1% salah mengelola bisnis.

Apalagi ditambah dengan narasi "jangan hutang".

Adanya repetisi "anti riba" dengan "jangan hutang" ini bisa menjadi subliminal message bahwa hutang adalah perkara yang hina dan cenderung mendekati riba.

Saya sepakat untuk ngga menggampangkan hutang.

Kalau belum tahu ilmunya ya hindari. Sudah tahu ilmunya pun tetap harus hati-hati. Sudah tahu ilmu dan hati-hati, kadang juga berakhir patah hati.

Tapi memaksakan paham bahwa bahaya hutang sama dengan bahaya riba, ngga bisa gitu harusnya.

***

Terakhir, harus kita akui di dalam perkembangan modern ini, masih belum banyak ulama yang mengupdate tentang definisi dan klasifikasi riba.

Tiga lembaga fatwa besar di Indonesia juga sudah ada fatwa tentang pinjam ke bank.

MUI haram, Muhammadiyah dan NU syubhat.

Tapi ketiganya sepakat bahwa fatwa terkait ini terus berproses karena berkaitan dengan maslahat hajat banyak orang.

Fatwa syubhat dari Muhammadiyah dan NU ini udah angin segar akan kemajuan perekonomian umat.

Ketika di Muhammadiyah dan NU sudah teregenerasi ulama-ulamanya, insya Allah akan ada perbaruan fatwa yang lebih kontemporer, karena saya melihat ulama-ulama muda dari kedua lembaga udah keluarkan pendapat yang sedikit berbeda dari lembaga fatwanya.

Kalau kesimpulan buat saya pribadi saat ini,

Pinjam ke rentenir = riba

Pinjam ke bank ≠ riba

Sehingga, kampanye yang tepat adalah gerakan anti rentenir (baik offline maupun online), bukan gerakan anti bank.


EmoticonEmoticon