Mengenal Gangguan Pencernaan Usus Besar, Irritable bowel syndrome (IBS)

Irritable bowel syndrome (IBS) atau sindrom iritasi usus besar adalah sekelompok gejala gangguan pencernaan yang memengaruhi kerja usus besar.

IBS terjadi akibat kerusakan pada cara kerja sistem usus, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda adanya kerusakan jaringan.

Sindrom ini umumnya ditandai dengan serangan sakit perut yang berulang. Sakit perut mulanya diawali oleh otot-otot usus yang terus berkontraksi seperti mau buang air besar. Umumnya kontraksi seperti ini terjadi hingga beberapa kali dalam sehari. Namun, kontraksi akan lebih sering terasa sehabis makan makanan tertentu, misalnya sayuran atau kopi.

Orang yang pencernaannya sehat tidak akan merasa sakit perut atau mulas sehabis makan atau minum itu. Namun, perut pengidap sindrom iritasi usus besar lebih sensitif sehingga rentan mengalami sakit perut, kembung, dan gangguan sistem pencernaan seperti diare atau kadang sembelit setelah mengonsumsinya.


 **********

Gejala-gejala Irritable Bowel Syndrome

Beberapa gejala yang mungkin terjadi adalah:

• Diare atau konstipasi, yang keduanya terkadang muncul bergantian

• Perut kembung

• Perut terasa sakit atau kram. Gejala ini biasanya akan berkurang setelah buang air besar

• Tinja disertai lendir

• Sakit kepala

• Mual

• Sering bersendawa dan buang gas

• Kelelahan

• Nyeri punggung

• Cepat kenyang

• Nafsu makan turun

• Rasa panas di dada

• Diare berair yang bisa terjadi lebih dari sekali dalam sehari

•Sembelit alias susah buang air besar, keras, feses kering

•Setelah buang air besar, ada perasaan feses belum keluar semua

•Kentut berlebihan

•Bentuk feses berubah-ubah; kadang keras, kadang lembek

Mungkin masih ada gejala lain yang tidak tercantum di atas.

************

Penyebab dan Faktor Pemicu Irritable Bowel Syndrome. 

•Infeksi di saluran pencernaan.

•Perubahan kondisi bakteri normal di dalam usus kecil.

•Gangguan pada fungsi otak sewaktu mengirim sinyal ke usus.

•Makanan yang terlalu cepat atau terlalu lambat dicerna di saluran pencernaan, sehingga menyebabkan diare atau konstipasi.

•Makanan atau minuman tertentu yang sulit untuk dicerna, contohnya yang makanan dengan kadar asam, lemak, gula, atau karbohidrat yang tinggi.

•Perubahan kadar hormon atau zat kimia lainnya di dalam tubuh yang berperan untuk mentransmisikan sinyal-sinyal saraf.

•Gangguan kesehatan mental, seperti gangguan panik, cemas, depresi, dan stres.

**************

Diagnosis Irritable Bowel Syndrome

Dokter akan memeriksa riwayat medis lengkap dan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter juga dapat melakukan tes untuk mengesampingkan kondisi lain.

Penderita IBS dengan diare kemungkinan akan dites terhadap intoleransi gluten. Setelah kondisi lain dikesampingkan, dokter akan menggunakan salah satu kriteria diagnostik berikut ini untuk IBS:

•Kriteria Roma. Kriteria ini termasuk sakit perut dan ketidaknyamanan yang berlangsung setidaknya satu hari dalam seminggu, dalam jangka waktu tiga bulan terakhir.

•Kriteria pengerjaan. Kriteria ini berfokus pada rasa sakit yang hilang dengan buang air besar atau buang air besar yang tidak tuntas dan lendir di dalam tinja serta perubahan dalam konsistensi tinja.

•Jenis IBS. IBS dapat dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan gejalanya, yaitu konstipasi-dominan, diare-dominan atau campuran.

Tes tambahan yang dapat dilakukan dokter, diantaranya adalah:

•Sigmoidoskopi fleksibel. Dokter akan memeriksa bagian bawah usus besar (sigmoid) dengan tabung yang fleksibel dan terang (sigmoidoscope).

•Kolonoskopi atau prosedur yang melibatkan tabung kecil fleksibel untuk memeriksa seluruh usus besar.

•X-ray atau CT scan akan menghasilkan gambar-gambar struktur perut dan panggul yang memungkinkan dokter untuk menyingkirkan penyebab lain.

•Tes darah. Bertujuan untuk mengetahui apakah ada kondisi lain yang memiliki gejala sejenis, misalnya penyakit celiac atau intoleransi laktosa.

•Pengambilan sampel tinja. Tinja diperiksa untuk melihat adanya infeksi bakteri atau parasit.

**************

Pengobatan Sindrom Iritasi Usus

Pada umumnya sedikit perubahan pada pola makan dan gaya hidup dapat mengurangi gejala yang timbul. Berikut ini saran untuk dapat mengurangi sindrom iritasi usus, yaitu:

• Menghindari kafein pada kopi dan teh.

• Tambah lebih banyak serat seperti buah-buahan, sayur, dan kacang.

• Minum air putih setidaknya 3-4 gelas sehari.

• Tidak merokok.

• Berolahraga secara teratur.

• Istirahat yang cukup.

• Hindari makanan yang dapat memicu gejala yaitu makanan yang mengandung gas tinggi. 

Beberapa terapi medis yang dapat diberikan untuk pengidap sindrom iritasi usus:

•Antibiotik, apabila disebabkan oleh ketidakseimbangan jumlah bakteri dalam usus.

•Antispasmodik, dapat menurunkan ketegangan otot usus, sehingga pada usus dengan kontraksi berlebihan dapat diredakan dengan obat ini.

•Antidepresan, dapat meredakan gejala pada beberapa orang, terutama yang dipicu oleh stres atau depresi.

•Probiotik, yang merupakan bakteri hidup yang dapat membantu dalam proses pencernaan di usus.


EmoticonEmoticon