Mindset Agar Tidak Menyalahkan Tuhan Dalam Kondisi Sulit

Ayodibaca -  Mungkin ada dari kita yang di masa pandemi ini sangat sumpek keadaan hatinya, gara-gara ekonomi atau hal lain. Lalu saking sumpeknya, kita jadi menyalahkan Tuhan. Dengan beban yang terus datang bertubi-tubi, hingga kita merasa seakan Gusti Allah tidak adil pada kita. Kita pun mempertanyakan Kasih Sayang-Nya.

Itu sih manusiawi kalo dipandang secara manusia. Saat ada orang banyak masalah lalu mengeluh. Tapi, blak-blakan aja ya, sebenernya sikap begitu juga kurang ajar di sisi lain. Lha wong kita bisa melek dan masih bernapas ketika bangun tidur itu aja belum bisa kita syukuri. Andai kita benci hidup kita, trus kita mau mati aja, emangnya hidup kita spontan jadi senang? Mau protes keadilan Tuhan, trus emangnya ada pilihan Tuhan lain?


Akar masalah kenapa sampai kita mempertanyakan keadilan Tuhan, sebenarnya karena kita belum paham bagaimana semua ini berjalan. Ketidakpahaman itu karena selama ini cara berpikir kita salah. Selama ini kita berpikir kita sebagai subyek, kita merasa berkuasa atas diri kita sendiri. Padahal tidak, Bambang!

Gusti Allah tidak peduli siapa kita. Mau anak nabi kek, anak setan kek, anak orong-orong kek, kalo dikehendaki dapet rejeki ya dapet aja, kalo dikehendaki dapet bencana ya pasti dapet. Dan justru itulah yang membuat kenapa Gusti Allah layak disebut Tuhan. Dia punya kehendak yang tidak bisa diganggu gugat, tidak bisa diintervensi, tidak terpengaruh apapun. Sehingga kekuasaan-Nya jelas kelihatan absolutnya. 

Dengan mengetahui itu, justru harusnya kita bangga punya Tuhan kok digdaya banget. Kekuasaan-Nya kokoh tak tertandingi, gak ada yang bisa menghalangi kekuasaan-Nya. Beda sama kekuasaan manusia. Biarpun presiden, bangun tidur encok kumat, pasti sambat. Biarpun punya istri 4, tiba-tiba impoten, ya nganggur semuanya. Manusia ternyata gak bisa menguasai dirinya sendiri, gitu kok punya cita-cita menguasai di luar dirinya. Maka selayaknya manusia memaksa diri untuk menghamba pada Gusti Allah yang punya kuasa atas segala sesuatu.

Kalo mindset kita sebagai hamba Gusti Allah itu bisa kita menancap di diri kita, sebenernya mudah untuk bisa keluar dari kesumpekan. Karena hakikat bahagia dan sumpek itu cuma masalah bagaimana hati kita memandang dunia. Bukan bagaimana kita dipandang dunia.

Setelah tertancap mindset seorang hamba, maka kita bisa dengan jelas melihat bahwa semua yang terjadi adalah hasil kehendak Gusti Allah saja. Ciptaan Gusti Allah berupa dunia dan dinamikanya adalah terbijak bagi kita menurut Gusti Allah, terbaik bagi kita menurut Gusti Allah dan teradil bagi kita menurut Gusti Allah. Gak ada tempat yang sebaik dunia sekarang ini bagi kita menurut Gusti Allah.

Ada cerita, satu hari Kyai Sarip diminta 5 anaknya untuk membagi kue untuk mereka secara adil. Kyai Sarip pun bertanya, "Kalian mau aku bagi kue ini dengan keadilan menurut Tuhan atau menurut manusia?"

"Menurut Tuhan, Bah," serempak 5 anaknya menjawab.

Kyai Sarip langsung membagi kue itu secara berbeda-beda ukurannya, ada yang besar, sedeng dan kecil. Lalu kue itu pun dibagi secara random, ada yang dapat besar, dapet sedeng dan dan ada yang dapet kecil. 5 anaknya pun protes, "Kok baginya gak adil gini, sih Bah?"

Kyai Sarip pun menjawab, "Kalian minta aku membagi kue ini dengan keadilan menurut Tuhan, maka begitulah Tuhan membagi rejeki-Nya, sehingga ada orang yang kaya dan ada yang miskin, dan terjadi hubungan dinamis saling memberi dan menerima di antara mereka. Sedangkan keadilan menurut manusia, membagi rejeki secara sama untuk semua golongan, tapi justru terjadi kejumudan, sifat individualis dan ketidakseimbangan,"

Maka kita gak usah protes pada Gusti Allah saat kita sedang kesulitan. Ada kalanya kesulitan itu adalah kondisi terbaik buat kita menurut Gusti Allah. Entah apa itu, yang pasti seorang hamba itu kudu terus husnudzon pada ketetapan Sang Juragan.

Imam Ghozali dawuh

"Sesungguhnya Gusti Allah Maha Bijak dalam keputusan-Nya, Maha Adil dalam ketetapan-Nya, keadilan-Nya bukanlah keadilan menurut manusia. Manusia akan dianggap dzolim karena menganggap dirinya mempunyai kuasa atas sesuatu. Sebaliknya, mereka tidak dianggap dzolim kalau menganggap semua itu sejatinya kehendak Gusti Allah juga. Karena sejatinya manusia tidak akan bisa menguasai apa yang dimilikinya sekarang, sebelum dia dikehendaki berubah keadaannya oleh Gusti Allah"

Mugi manfaat.

soleh :Fahmi Ali N H


EmoticonEmoticon