Cerita Pengalaman Pertama Kali Jadi Office Boy

Gue dulu pernah kerja di mall daerah Thamrin. Posisi sebagai pria kantor. Yak, betul. Office Boy. Selama bertahun-tahun setelah lulus sekolah, bingung mau kerja apa. Di rumah kerja sih, bantu ortu jualan. Tapi kebanyakan santainya. Sampai akhirnya, gue kejebak di zona nyaman. Mager-mageran. Bahasa Prancisnya, makkalasi. Cari di kamus oxford. Pasti gak ketemu. Soalnya itu bahasa bugis hehe. 

Setelah 500 halaman kultum gue terima. Kalau dibikin skripsi. Judulnya 'Nasehat Ibu'. Manusiawi kalau kuping panas. Tapi setelah dipikir lagi. Justru di sini, terdakwa itu gue hehe. Bayangin, makan kuat. Kerja sekarat. Kata paman gue, mandor. Makan kuat kerja kendor. 


Singkat cerita, ada seseibu yang menawarkan pekerjaan sebagai lelaki kantor. Ibu itu kebetulan orang dalam hehe. Jadi gue gampang masuknya. Biasanya sih, kebanyakan ditolak. Kekuatan orang dalam memang tak perlu diragukan lagi awokwokwok.

Pakai setelan tai cicak. Lengkap dengan sepatu hitam mengkilat. Dengan mantap, meluncur ke daerah Thamrin. Pakaian rapi, sepatu kinclong. Tau dong, berangkat naik apa? Yap. Angkot. Kalau masih pagi, oksigen masih murni. Menjelang sore atau malam, oksigen di dalam angkot. Bercampur aroma kecut khas dari ketiak kita, ditambah stela wangi jeruk. Lengkaplah sudah. 

Pertama kali jadi OB. Gue udah bikin kasus. Dengan salah masukin cairan. Cairan apaan tuh man? Yap, botol yang harusnya berisi hand sanitizer, gue isi karbol wkwk. Maklum, istilahnya masih magang. Rada kagok.

Yang gak kalah membagongkan adalah gue gak tau caranya naik lift. Pasti kalian pikir gue katro'. Emang bener sih hehe. Masa muda gue, kebanyakan belajar, ngerjain tugas temen biar dapat upah, ke ladang buat metik cabai atau ngekopra. Ke pasar, cuma yang tradisional. Praktis, itu adalah pengalaman pertama gue ke mall gede. 

Setelah 3 hari, akhirnya gue memberanikan diri. Masuk lift. Pertama kali masuk, ada 10 orang. Satu persatu mereka keluar. Lift berhenti, keluar. Begitu seterusnya, sampai tersisa dua orang. Gue dan wanita yang gak tau namanya siapa. 

"Mas lantai berapa?"

"Tergantung kamu aja. Mau lantai berapa?"

Seketika mbak tadi jadi bisu. Dalam hatinya, freak nih orang wkwk. Ya maap, namanya kita gak tau. Baru pertama kali mengendarai lift. Mau bilang begitu sih awalnya, tapi katro'-katro' gini, gue masih punya harga diri. 

Clossss...

Kira-kira kek itulah bunyinya. Kalau kalian mau protes, terserah. Setau gue, suaranya macam itulah. Keluar. Seketika gue takjub dengan suasana di sekeliling. Mendekat ke jendela, gue liat manusia dan kendaraan sekecil upil. Di sana gue sadar bahwa, dunia itu rupanya gak kecil. Dunia kesendirian gue, gak ada apa-apanya dibanding yang mata gue rekam saat itu.

Setelah beberapa kali belajar naik lift. Akhirnya gue paham, sampai hapal letak tombolnya. Sambil tutup mata pun bisa kali awokwokwok. Sombong kali kau anak muda. Setelah lift, gue penasaran naik eskalator. Beneran dah, tempat kerja serasa wahana bermain. Orang-orang pada mandang gue, pas naik lantai pakai eskalator yang turun. Dalam hati mereka, mungkin gue dianggap miring. Setiap hari menikmati lift dan eskalator. Pengalaman baru yang gak bakalan gue lupakan. Sampai hari ini, sering ketawa sendirian. Kalau keingat-ingat kejadian konyol di mall. 

Masih banyak sih, pengalaman seru gue selama kerja jadi anak kantoran, sebelum buka warung kelontong. Besok-besok disambung lagi. Tapi gak tau besok kapan hehehe.

Bersambung.

Oleh : Agus Riadi


EmoticonEmoticon