Dampak dan Saran bagi Anak dengan Orang tua yang Bercerai

Setiap manusia dewasa memiliki tugas perkembangan, salah satunya adalah menikah. Tak satupun manusia yang merencanakan perceraian saat baru melangsungkan pernikahan. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau perceraian dapat terjadi saat sepasang suami istri tidak dapat lagi menyatukan visi dalam membangun bahtera rumah tangga. Saat perceraian terjadi, bukan hanya pasangan suami istri yang menerima dampaknya. Bila mereka telah memiliki anak, anaklah yang menjadi korban. Kebingungan anak atas perpisahan orang tuanya serta rasa bersalah saat salah satu orang tua meninggalkannya dapat berakibat buruk bagi perkembangan psikologis anak.


Dampak buruk yang dapat terjadi pada anak “broken home” terlihat pada salah satu kasus bunuh diri seorang siswa SMP yang baru-baru ini terjadi (http://www.kaskus.co.id/thread/54bae71c32e2e6895e8b4569/korban-broken-home-pelajar-ini-bunuh-diri-dalam-lemari/). Tidak ada niat untuk menghakimi siapapun, tulisan ini hanya berusaha mengingatkan bagi para orang tua yang mengalami perceraian maupun remaja yang orang tuanya bercerai.

Dampak perceraian pada anak diuraikan sebagai berikut:

1. Depresi
Awalnya, anak merasa tidak aman (insecure) karena ada salah satu orang tua yang tidak lagi tinggal bersamanya, lalu muncul rasa sedih, kesepian. Bisa saja anak merasa bersalah atas kepergian salah satu orang tuanya. Bila kondisi ini tidak cepat ditangani, kemungkinan besar anak bisa menjadi depresi akibat perceraian orang tuanya. Depresi adalah salah satu gejala yang paling umum terlihat pada anak, ketika orang tua mereka berpisah. Anak akan mulai mengisolasi diri dalam dunia mereka dan menjauhi hal-hal yang biasa dilakukan oleh anak seusia mereka, bahkan hingga bunuh diri.

2. Cenderung berperilaku kasar
Perilaku ini muncul karena anak mulai merasa seolah-olah dirinya ditipu oleh orang tuanya. Selain itu, dia juga bersikap demikian untuk menarik perhatian kedua orang tuanya. Dia berharap bahwa apa yang dilakukannya bisa kembali mempersatukan keluarganya.

3. Sulit fokus
Perceraian memberi dampak buruk pada performa anak, terutama untuk prestasinya di sekolah. Itu dikarenakan dia terus memikirkan tentang perceraian orang tuanya, sehingga dia tidak dapat fokus pada hal lain. Jika terus dibiarkan, prestasi anak akan terus menurun dan bahkan hancur.

4. Kehilangan rasa hormat
Hal ini sering terjadi pada anak-anak yang beranjak dewasa atau masih remaja. Perceraian itu membuat mereka kehilangan rasa hormat mereka terhadap orang tua. Mereka bahkan berani menyalahkan orang tua mereka, karena dinilai telah merusak kehidupan mereka. Selain itu, anak juga acapkali dijadikan bahan lelucon di sekolahnya karena masalah perceraian orang tua. Akibatnya, anak pun melampiaskan semua kemarahannya kepada orang tuanya.

5. Memilih jalan yang salah
Sebagian anak yang menjadi korban perceraian memutuskan (atau terpaksa) untuk memilih jalan yang salah, termasuk penyalahgunaan narkoba dan alkohol, pelecehan seks, dan hal buruk lainnya. Mereka kadang-kadang melakukannya sebagai bentuk pelarian terhadap kenyataan.


Inilah dampak buruk perceraian pada anak. Meski tidak semua anak terjerumus ke jalan yang salah karena perceraian, orang tua harus lebih berhati-hati dalam memberi pengertian ke anak. Jika perceraian menjadi jalan satu-satunya untuk masalah Anda, pikirkan bagaimana nasib anak ke depannya.


Dampak buruk perceraian bagi anak dapat diminimalisir dengan beberapa cara:

1. Melibatkan anak dalam diskusi mengenai persoalan yang dihadapi orang tua (dengan bahasa yang dipahami oleh anak). Jelaskan bahwa orang tuanya tidak dapat lagi tinggal bersama namun tetap menyayangi sang anak. Sehingga, anak tidak merasa bersalah dengan perpisahan orang tuanya.

2. Tetap menjalin komunikasi dengan anak. Meskipun tidak bisa seintensif saat belum bercerai, setidaknya, pastikan bisa tepati janji terhadap anak. Mengingkari janji terhadap anak dapat menyebabkan anak merasa tidak diinginkan lagi oleh orang tuanya.

3. Jangan saling menjelekkan mantan pasangan pada anak. Meskipun perceraian terjadi disebabkan karena hal yang buruk, namun, upayakan untuk tetap bersikap saling menghargai. Hal ini dapat membuat anak tetap menjaga rasa hormatnya pada orang tuanya. Ingat, tak ada bekas anak, Seburuk apapun mantan pasangan, ia tetaplah salah satu orang tuanya.

4. Rasa kecewa terhadap perceraian orang tua, dapat hilang perlahan saat anak bisa melihat dan merasakan orang tuanya tetap menyayanginya, dan tetap menjalin komunikasi yang hangat dengan sang anak. Tanamkan pada anak, bahwa meskipun orang tuanya tidak lagi bersama, dan anak tidak tinggal bersama dengannya, namun anak tetap memiliki orang tua yang utuh yang tetap dekat dan sayang padanya.

5. Tetap arahkan anak dalam bergaul. Jaga komunikasi dan keterbukaan dengan anak. Selalu libatkan anak saat mengambil keputusan, termasuk saat orang tua hendak menikah lagi dengan orang lain. Mendengarkan pendapat dan berdiskusi mengenai kehidupan dapat membuat anak tetap merasa dianggap ada.

sumber : http://www.psychoshare.com/file-1944/psikologi-kepribadian/kepribadian-anda-menurut-golongan-darah.html


EmoticonEmoticon