Bicara Cinta: Dalam Perspektif Psikologi Barat

Cinta” kata-kata ini bila didengar membuat siapa saja mendengarnya tersipu senyum malu. Bahkan ketika dalam kondisi marah sekalipun, mengucapkan kata cinta tetap melambangkan sebuah kebaikan, bagi pengucap dan pendengarnya. Tulisan ini dikemas secara eksklusif, sistematis dan ditulis dalam sudut pandangan akademis. Tulisan ini merupakan kajian kritis terhadap sub tema dalam karya Dr. Lynn Wilcox. Dalam tulisan ini penulis mengungkap hakikat cinta dari perspektif psikologi Barat.


Fromm menyatakan bahwa cinta sejati memiliki beberapa elemen diantaranya: kepeduliaan, tanggung jawab, rasa menghargai dan pengetahuan. Leo Buscagla menyatakan bahwa cinta yang sempurna adalah jika seseorang memberikan segalanya dan tidak mengharapkan apa-apa dan tidak meminta apa-apa, dia tidak akan pernah merasa dicampakkan atau dikecewakan. Lebih lanjut menurut Fromm cinta dan diri adalah satu kesatuan, pertemuan keduannya merupakan realisasi dari kedua hal tersebut.

Lebih lanjut Fromm menyatakan bahwa seseorang yang mampu mencintai adalah seseorang yang mampu mencintai dirinya sendiri, jika dia tidak mampu mencintai dirinya sendiri, maka dia tidak bisa mencintai sama sekali. Theodor Reik menyatakan bahwa cinta merupakan usaha untuk menenangkan tekanan dalam diri, mengurangi ketidaksesuaian dalam diri, menggantikan objek cinta untuk ego ideal.

Lebih lanjut menurut Rollo May ada empat macam cinta dalam kebudayaan Barat yang terkait dengan kebudayaan Yunani Kuno. Pertama adalah sex (nafsu, libido). Kedua adalah eros (dorongan cinta untuk mencipta, keinginan menuju bentuk tertinggi suatu hubungan). Ketiga, cinta pada saudara philia. Keempat adalah agape (memberi tanpa meminta, seperti bentuk cinta Tuhan pada manusia). Dalam pandangan May, macam cinta yang sesungguhnya terletak pada bentuk sex dan eros.

Hal ini senada dengan John Ciardi menyatakan bahwa cinta adalah kata yang digunakan untuk melambangkan kegembiraan seksual pada usia muda, kebiasaan pada usia tengah dan ketergantungan mental pada usia senja. Di Amerika Serikat, secara ekonomis cinta romantik sangat menguntungkan. Bermilyar-milyar uang telah dikeluarkan untuk membeli produk dari iklan yang menjanjikan dapat membuat seseorang lebih menarik sebagai kekasih. Lebih lanjut penelitian yang dilakukan oleh Berscheid yang menyimpulkan bahwa cinta yang romantik di Amerika Serikat adalah 90% hasrat seksual. Sehingga jelas bahwa produk “cinta” yang dijual oleh produsen adalah murni hasrat seksual.

Berdasarkan penjelasan mengenai kajian cinta dalam perspektif psikologi Barat. Penulis memberikan pandangan terhadap pendapat tokoh psikologi Barat. Cinta dalam pandangan psikologi Barat merupakan hubungan lawan jenis yang berbentuk hubungan seksual. Sehingga bentuk cinta kepada saudara dan kecintaan terhadap Tuhan semuanya dikesampingkan, bukanlah hal yang menjadi fokus dalam kehidupan manusia. Ada pertanyaan besar yang dapat diajukan dalam kajian ini. Apakah konsep cinta yang terfokus pada bentuk hasrat seksual dapat diterapkan di belahan bumi Timur ?.

Bahkan seorang ilmuwan psikologi mengkritik hakikat cinta dari pandangan psikologi Barat. Ashley Montague menyatakan bahwa kata cinta telah digunakan dalam bayak arti yang sangat merendahkan, sehingga arti buruk telah menutupi yang baik.

Oleh: Iredho Fani Reza, S.Psi.I
Kandidat Master Bidang Psikologi Islam
Sekolah Pascasarjana UIN Syraif Hidayatullah Jakarta
iredhofanireza@rocketmail.com

Referensi Lanjutan:
Tulisan ini merupakan kajian terhadap karya yang ditulis oleh Lynn Wilcox dengan judul Critism of Islam Psychology dengan sub tema tentang Love. Lebih lanjut buku karya Wilcox telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Wilcox, Lynn, Psikologi Kepribadian. Terjm. Kumalahadi P. Judul Asli: Critism of Islam Psychology. Yogyakarta: IRCiSoD, 2013

sumber : http://www.psychoshare.com/file-2005/psikologi-dewasa/bicara-cinta-dalam-perspektif-psikologi-barat.html


EmoticonEmoticon