Mitos Otak yang Selama Ini Diyakini Sebagai Fakta

Ternyata mitos tidak hanya ada di dalam cerita fiksi namun di dunia pendidikan, dan mitos itu menjadi dasar bagi pengajaran yang tidak efektif, menurut sebuah makalah yang terbit di Nature Review Neuroscience 15 Oktober 2014.

Apakah anda pernah mendengar bahwa manusia hanya menggunakan 10% otaknya? Atau manusia dengan otak kanan dominan lebih kreatif dari manusia yang dominan otak kiri? Kedua “fakta” tersebut ternyata merupakan neuromyths, atau mitos tentang otak, dalam publikasi oleh Paul A. Howard-Jones.

Menurut doktor dari Graduate School of Education Bristol University, mitos-mitos tersebut seringkali dipromosikan kepada guru sebagai hasil dari penelitian tentang otak, atau neuroscience. Namun peneliti di bidang neuroscience sendiri tidak menemukan hasil yang mendukung ide-ide tersebut. Lanjutnya, ide tersebut tidak ada nilai pentingnya bagi pendidikan, dan sering dikaitkan dengan penerapan pengajaran yang tidak efektif di kelas.

Howard-Jones meneliti guru-guru di Inggris, Belanda, Turki, Yunani dan Cina, dengan menyajikan 7 mitos tentang otak. Hasilnya, seperempat dari guru di Inggris dan Turki percaya bahwa otak anak akan menyusut jika meminum kurang dari 6-8 gelas per hari. Lebih dari setengah juga percaya bahwa siswa hanya menggunakan kurang dari 10% otaknya, dan kurang memperhatikan setelah minum minuman yang mengandung gula.

Lebih dari 70% guru di kelima negara tersebut percaya bahwa ada siswa yang lebih dominan otak kanannya atau otak kirinya. Lanjutnya, hampir semua guru (90% di kelima negara), jika siswa belajar sesuai dengan gaya belajar yang disukainya–auditori, visual atau kinestetis, siswa tersebut akan akan lebih baik dalam memahami pengetahuan.

Mitos-mitos lainnya seperti: latihan koordinasi bisa meningkatkan integrasi belahan otak kanan dan kiri, atau permasalahan dalam belajar karena perbedaan perkembangan fungsi otak tidak bisa diperbaiki lewat pendidikan.
Beberapa mitos di atas pernah terdengar. Salah satunya, terkait gaya belajar visual, auditori dan kinestetis, sering didengungkan. Dan saat ini masih dipegang para pendidik sebagai salah satu dasar dalam memberikan masukan bagi pengajar dalam proses pembelajaran.

Mungkin penulis hanya salah satu dari sekian banyak pekerja pendidikan yang memegang mitos-mitos tersebut. Jika di dunia luar sana saja masih banyak guru yang mendasarkan pengajaran dari mitos-mitos tersebut, mungkin di Indonesia juga. Apalagi neuroscience belum begitu berkembang di sini. Atau justru ini keuntungan kita? Karena guru kita belum banyak tahu tentang ide-ide tadi, kita bisa memulai mempromosikan ide yang tepat tentang otak manusia. (Toso//www.popsy.wordpress.com)

Bacaan lebih lanjut:
Howard-Jones, Paul A. (2014) Neuroscience and education: myths and messages. Nature Review Neuroscience. Diakses di http://www.nature.com/nrn/journal/vaop/ncurrent/full/nrn3817.html pada 23 Oktober 2014.
Press Release (2014). Myth-conceptions: How myths about the brain are hampering teaching. Diakses di http://www.bristol.ac.uk/news/2014/october/brain-myths.html pada 23 Oktober 2014.
Myth-conceptions: How myths about the brain are hampering teaching. Diakses di http://www.neuroscientistnews.com/research-news/myth-conceptions-how-myths-about-brain-are-hampering-teaching pada 23 Oktober 2014.
Etchells, Pete. (2014). Brain baloney has no place in the classroom. Diakses di http://www.theguardian.com/science/head-quarters/2014/oct/17/brain-baloney-neuro-myths-teaching-education-classroom pada 23 Oktober 2014.
Read More

Jasa, Karakteristik Jasa dan Strategi Pemasaran Jasa

Menurut Djaslim Saladin (2004:134) pengertian jasa adalah sebagai berikut:
Jasa adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan oleh suatu pihak pada pihak lain dan pada dasarnya tidak berwujud, serta tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu. Proses produksinya mungkin dan mungkin juga tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik.”

Menurut Zeithaml dan Bitner yang dikutif oleh  Ratih Hurriyati (2005:28) pengertian jasa adalah sebagai berikut:
“Jasa adalah seluruh aktivitas ekonomi dengan output selain produk dalam pengertian fisik, dikonsumsi dan diproduksi pada saat bersamaan, memberikan nilai tambah dan secara prinsip tidak berwujud (intangible) bagi pembeli pertamanya.”
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka jasa pada dasarnya adalah sesuatu yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Sesuatu yang tidak berwujud, tetapi dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
  2. Proses produksi jasa dapat menggunakan atau tidak menggunakan bantuan suatu produk fisik.
  3. Jasa tidak mengakibatkan peralihan hak atau kepemilikan.
  4. Terdapat interaksi antara penyedia jasa dengan pengguna jasa.
Kategori penawaran dapat dibedakan menjadi lima macam, antara lain :

Barang berwujud murni (pure tangible good).
Penawaran semata-mata hanya terdiri atas produk fisik. Pada produk ini sama sekali tidak melekat jasa pelayanan. Contohnya sabun , pasta gigi, sampo dan lain-lain.

Barang berwujud dengan jasa pendukung (tangible good with accompanying services).
Barang berwujud dengan jasa pendukung merupakan tawaran terdiri atas tawaran barang berwujud diikuti oleh satu atau beberapa jenis jasa untuk meningkatkan daya tarik konsumen. Contohnya penjual mobil memberikan jaminan atau garansi, misalnya satu tahun gratis service kerusakan.

Jasa  campuran (Hybrid).
Jasa campuran merupakan penawaran barang dan jasa dengan proporsi yang sama. Contohnya makanan ditawarkan di restoran disertai pelayanan yang mengesankan.

Jasa pokok disertai barang-barang dan jasa tambahan ( major service with accompanying minor goods and service).
Penawaran terdiri atas suatu jasa pokok bersama-sama dengan jasa tambahan (pelengkap) dan atau barang-barang pendukung. Contohnya penumpang pesawat yang membeli jasa angkutan (trasportasi) selama menempuh perjalanan ada beberapa produk fisik yang terlibat seperti makanan, koran dan lain- lain.

Jasa murni ( pure service ).
Jasa murni merupakan tawaran hanya berupa jasa. Contoh : panti pijat, konsultasi psikologis dan lain-lain.

Karakteristik Jasa

Jasa mempunyai empat karakteristik utama yang sangat mempengaruhi rancangan program pemasaran yaitu : Tidak berwujud (intangibility), Tidak dapat dipisahkan (inspirability), Berubah – ubah (variability), Mudah lenyap (perishability).
Tidak Berwujud (Intangibility)
Jasa mempunyai sifat tidak berwujud karena tidak bias dilihat, dirasa, di dengar, didengar, diraba, atau dicium sebelum ada transaksi pembelian .
Tidak Dapat Dipisahkan (Inspirability)
Suatu bentuk jasa tidak dapat dipisahkan dari sumbernya, apakah sumber itu merupakan orang atau mesin, apakah sumber itu hadir atau tidak, produk fisik yang berwujud tetap ada.
Berubah – ubah (variability)
Jasa sesungguhnya sangat mudah berubah – ubah karena jasa ini sangat tergantung pada siapa yang menyajikan, kapan dan dimana disajikan .
Mudah Lenyap (Perishability)
Daya tahan suatu jasa tidak akan menjadi masalah jika permintaan selalu ada dan mantap karena penghasilan jasa di muka dengan mudah. Bila permintaan atau turun, maka masalah yang sulit akan segera muncul.

Strategi Pemasaran Perusahaan Jasa

Terdapat tiga tipe pemasaran dalam dunia usaha, antara lain:
Pemasaran Eksternal (External Marketing)
Strategi pemasaran eksternal ini dikenal dengan 4P (product, price,  promotion, place.
Pemasaran Internal (Internal Marketing)
Pemasaran jasa tidak cukup hanya dengan pemasaran ekternal (4P) tetapi harus diikuti pula dengan peningkatan kualitas atau keterampilan para personil yang ada dalam perusahaan. Selain itu, juga harus ada kekompakan atau suatu tim yang tangguh dari personil yang ada dalam perusahaan tersebut, khususnya dalam menghadapi para pelanggan sehingga membawa kesan tersendiri yang meyakinkan pelanggan.
Pemasaran Interaktif (Interaktif Marketing)
Kepuasan konsumen tidak hanya terletak pada mutu jasa, misalnya restorannya yang megah dan makanannya yang bergizi, tetapi juga harus dipadukan dengan melakukan service quality improvement supaya peningkatan pelayanan benar-benar meyakinkan.
Read More

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak yang bersifat Nonnormatif

Kelainan yang muncul pada seorang anak berkaitan erat dengan faktor – faktor yang mempengaruhi  perkembangan mereka. Faktor – faktor tersebut di antaranya adalah :

    Cetak Biru Biologis ( Biological Birthright )


Dalam perjalanannya dapat terjadi kelainan genetis yang lazim dikenal sebagai abnormalitas gen. Abnormalitas ini dapat terjadi ketika kromoson tidak memiliki pasangan ( tunggal ) atau sebagaian kromoson hilang,mengalami duplikasi ( kelipatan ) atau salah ( keluar ) dari tempatnya. Abnormalitas yang paling mudah dikenali adalah sindroma down atau down”s syndrom, yang disebabkan oleh adanya kelebihan kromoson di kromosom 21.


    Genetik Dan Lingkungan


Dari semua area dimana pengaruh genetik dan lingkungan saling berinteraksi mempengaruhi seorang anak, maka ada dua aspek yang mengundang perbedaan pendapat paling kontroversial yaitu berkaitan dengan perbedaan jender yaitu perbedaan antara laki-laki dengan perempuan; dan yang kedua adalah berkaitan dengan peranan, sifat-sifat serta asal-usul intelegensi.

    Perbedaan Gender


Sering kita dengar bahwa laki-laki lebih rapuh dibandingkan perempuan, hal ini berlanjut saat mereka dapat bertahan hidup setelah dilahirkan. Laki-laki lebih terbuka dibandingkan perempuan terhadap kemungkinan bermacam-macam kelainan yang sangat luas berfariasi termasuk cerebral palsy, infeksi, keterbelakangan mental dan beberapa kesulitan belajar. Jhon Money (dalam Lamsdown dan Walker, 1996) mengatakan bahwa hormon mengarahkan anak atau individu untuk berperilaku sesuai dengan jenis kelamin, namun pengalaman anak akan mempengaruhi apakah pengaruh hormonal tersebut akan hilang atau diperkuat.

    Intelegensi


Intelegensi adalah kualitas mental yang didasari keberhasilan seseorang di sekolah. Beberapa psikolog mengemukakan bahwa sebenarnya ada dua faktor utama yaitu pertama adalah faktor umum  (general factors), yang mendasari kemampuan intelektual, dan kedua adalah serangkaian kemampuan khusus (spesific abilities). Keberadaan kemampuan umum ini menjelaskan mengapa ada kecenderungan bila seseorang memiliki kemampuan yang baik dalam satu bidang, juga dia baik pada beberapa bidang lain. Dilain pihak gagasan mengenai kemapuan khusus dapat menerangkan mengapa, contohnya, mengapa ada orang-orang yang amat mahir dalam mengadakan negosiasi, namun gagal dalam matematika.

    Kontrol Sosial


Konteks dimana seorang anak atau individu tinggal memegang peranan amat penting karena perubahan-perubahan yang terjadi memberikan pengaruh pada setiap tahap usia aspek dan perkembangan. Bagaimana konteks sosial tersebut berpengaruh pada anak akan dibahas di bawah ini:

    Keluarga


Keluarga adalah konteks pertama yang memperkenalkan anak kepada dunia secara fisik melalui kegiatan bermain dan menjelajah objek-objek yang berada di sekitarnya. Kelekatan dengan orangtua dan saudara kandung biasanya berjalan sepanjang kehidupan dan menjadi model saat membina hubungan dalam dunia yng lebih luas, seperti tetangga, sekolah, dan masyarakat di sekitar tempat kita tinggal.

Dalam keluarga, anak belajar menggunakan bahasa, keterampilan-keterampilan tertentu, nilai-nilai sosial dan moral yang berkembang dalam kebudayaan dimana mereka tinggal.

Parke dan Burke (1998:dalam Berk, 2005), kehangatan, kebahagiaan atau kepuasan dalam ikatan keluarga meramalkan kesejahteraan psikologis sepanjang tentang perkembangan individu. Sebaliknya, isolasi atau keterasingan dari ikatan keluarga seringkali dihubungkan dengan adanya masalah dalam perkembangan seseorang.

Penelitian-penelitian mutakhir memandang keluarga sebagai suatu jejaring dari hubungan yang saling memiliki ketergantungan satu sama lain (interdependent). Bronfenbrenner menyebutnya sebagai suatu sistem yang memiliki pengaruh bidirectional (bidirectional influences), artinya perilaku atau respon dari setiap anggota keluarga dipengaruhi dan saling mempengaruhi anggota keluarga yang lainnya. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak langsung.

    Pengaruh yang bersifat langsung (direct influences)

Perilaku salah seorang anggota keluarga memperkuat bentuk reaksi yang terjalin dengan anggota keluarga lainnya, dan pada gilirannya bentuk reaksi tersebut dapat meningkatkan atau menurunkan kesejahteraan anak. Suatu perilaku terbentuk sebagai reaksi yang diterima dari lingkungan, sementara bagaimana lingkungan bereaksi juga dipengaruhi oleh perilaku yang ditampilkan.

    Pengaruh yang bersifat tidak langsung

Dampak dari hubungan dalam keluarga terhadap perkembangan anak menjadi lebih rumit ketika kita menyadari bahwa hubungan antara dua anggota keluarga dipengaruhi oleh kehadiran orang lain dalam lingkungan mereka, atau Bronfenbrenner (dalam Berk, 2005) menyebutnya sebagai pihak ketiga (Thirt parties).

Pihak ketiga dapat menjadi pihak yang memberi dukungan dalam perkembangan. Kehadiran anak diantara kehidupan orangtua juga mempengaruhi hubungan orangtua mereka.

Kekuatan saling pengaruh-mempengaruhi dalam keluarga bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan, begitu salah satu anggota keluarga beradaptasi dengan perkembangan yang terjadi pada anggota lain.misalnya ketika seorang anak sudah berhasil menguasai keterampilan yang baru, maka orangtua menyesuaikan cara mereka menghadapi anak sesuai dengan kemampuan baru yang dimiliki oleh anak. Orangtua merubah caranya menghadapi anak sejalan dengan perkembangan anak, sebaliknya perubahan yang terjadi pada orangtua juga mempengaruhi anak dalam berperilaku.

Perubahan-perubhaan dalam lingkungan yang muncul bersamaan dengan perkembangan anak juga mempengaruhi cara orangtua mengasuh anaknya.

    Status Sosial, Ekonomi dan Fungsi Keluarga.

Dalam banyak budaya, maka status sosial ekonomi mempengaruhi kapan seseorang anak memutuskan akan menjadi orangtua dan besarnya anggota keluarga. Penelitian-penelitian di Amerika memperlihatkan bahwa orang-orang yang pekerjaannya memerlukan keterampilan tidak terlalu khusus dan khusus misalnya penjaga sesuatu, dll. Cenderung menikah dan memiliki anak lebih cepat (muda) dengan jarak kelahiran anak lebih dekat dan jumlah anak lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki pekerjaan kantoran dan profesional. Kedua kelompok ini juga memiliki nilai-nilai dan harapan yang berbeda dalam mengasuh anak-anak mereka.

Kondisi kehidupan dalam keluarga dapat membantu kita untuk memahami mengapa keadaan seperti ini dapat muncul. Orangtua dengan status sosial ekonomi lebih rendah seringkali merasa tidak memiliki kekuatan dan tidak memiliki pengaruh saat menjalin hubungan diluar kehidupan rumah atau dalam masyarakat. Namun sebaliknya dengn orangtua yang memiliki sosial ekonomiu lebih tinggi, mereka nampaknya lebih dapat mengontrol kehidupan mereka.

    Kemiskinan.

Kemiskinan membuat kesehatan fisik memburuk, kemampuan kognitif atau kecerdasan berkurang atau tidak berkembang optimal, kemampuan akademis menurun, putus sekolah, gangguan jiwa dan meningkatkan perilaku antisosial atau kenakalan. (Poulton dkk., 2000; Secombe, 2002; dalam Berk, 2005). Selain anak maka stres yang muncul secara terus menerus akibat kemiskinan ini membuat orangtua menjadi depresi, mudah marah, mudah tersinggung, dan pada akhirnya akan mengganggu perkembangan anak.

    Perbedaan budaya.


Masyarakat tempat seorang anak dilahirkan masih memberikan pengaruh yang paling besar. Setiap negara, setiap suku daya dalam suatu negara, memiliki cara-caranya tersendiri dalam memperlakukan seorang bayi dan anak , mereka juga memiliki harapan yang khas. Di satu sisi beberapa ahli menekankan pada adanya faktor genetik yang menyebabkan munculnya perbedaan. Sementara di sisi yang lain lebih menekankan kepada adanya perbedaan pola pengasuhan, mereka melihat bila anak-anak di Afrika ini mendapat perlakuan yang sama seperti anak-anak di Barat, maka mereka akan belajar berjalan dengan kecepatan yang sama.

Bila kita cermati, maka di seluruh dunia ini amat banyak perbedaan-perbedaan yang dapat kita amati, mengenai bagaimana cara-cara setiap budaya memperlakukan bayi-bayi yang baru lahir. Hampir semua bangsa, melalui sistem pendidikan di sekolah, secara didasari maupun tidak cenderung menekan anak-anak, agar mereka mematuhi nilai-nilai budaya yang berkembang dalam masyarakatnya. Bila mereka tidak patuh pada nilai-nilai tersebut, maka hukuman atau “label” tertentu akan diberikan pada anak tersebut.

    Ketangguhan (resiliency).

Ketangguhan (resiliency) adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu dan dengan kemampuan tersebut, individu mampu bertahan dan berkembang secara sehat serta menjalani kehidupan secara positif dalam situasi yang kurang menguntungkan atau penuh dengan tekanan. Hal lain yang perlu dipahami bahwa ketangguhan itu adalah suatu kemapuan yang dimiliki oleh anak karena adanya proses belajar. Saat seorang anak merasa tidak pasti maka mereka akan melihat kepada dean meminta dukungan kepada orangtuanya dengan tanda-tanda tertentu seperti adanya bahasa tubuh tertentu yang diberikan sebagai dukungan, sehingga mereka dapat berinteraksi dengan tepat. Dengan demikian, interprestasi anak terhadap situasi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar dipelajari dari bagaiman orangtua berinteraksi terhadap kebutuhan mereka.

Penelitian yang panjang dilakukan oleh banyak peneliti untuk melihat faktor-faktor apa yang melindungi seorang anak dari kerusakan yang ditimbulkan sebagai akibat dari lingkungan yang penuh dengan tekanan. Ditemukan adanya empat faktor utama, yaitu:

    Karakteristik pribadi.

Karakteristik bawaan seorang anak dapat mengurangi dampak negatif akibat paparan yang terus menerus dari situasi yang penuh dengan tekanan atau mengarahkan pada keadaan yang lebih buruk. Intelegensi yang tinggi dan bakat-bakat sosial yang bermanfaat merupakan faktor protektif.

    Pengasuhan yang penuh kehangatan.

Hubungan yang dekat dengan paling tidak salah satu orangtua yang penuh dengan kehangatan, meletakkan harapan yang tinggi dan tepat pada anak, memantau kegiatan anak dan menciptakan  lingkungan rumah yang dapat menumbuhkan ketangguhan pada anak. Faktor ini tidak dapat lepas dari karakteristik yang dimiliki oleh anak.

    Dukungan sosial selain keluarga inti.

Contohnya :  Aam memiliki paman  yang senang memperbaiki mobil serta memiliki bengkel kecil, meskipun sederhana namun keluarga paman beserta anaknya yang sebaya dengan Aam dengan tangan terbuka menerima kedatangan Aam setiap sabtu dan minggu ke bengkel mereka yang sederhana yang untuk turut membantu-bantu. Secara tidak didasari, paman dan keluarganya  menjadi model bagi Aam untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan.

    Masyarakat yang perduli.

Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, kelompok keagamaan dan organisasi lainnya mengajarkan keterampilan-keterampilan sosial yang amat penting. Penelitian dalam bidang ketangguhan memperlihatkan hubungan yang komplek antara faktor bawaan dengan lingkungan. Apapun alasannya, maka satu hal yang perlu mendapatkan perhatian penuh adalah bahwa untuk mengoptimalkan perkembangan seorang anak, maka faktor resiko harus diperkecil dan faktor protektif diperkuat.

    Penanganan.

Orangtua tentu saja akan memerlukan bantuan pada ahli bila ternyata anaknya mengalami kelainan. Ada beberapa jenis yang disarankan, sebagai berikut:

    Penanganan Medis.


Penting bagi orangtua mengetahui dengan jelas apa efek samping dari obat yang akan diberikan  pada anak mereka.

    Terapi Bermain.


Terapi bermain adalah salah satu bentu psikoterapi yang digunakan bagi anak-anak lebih kecil untuk mengatasi keterbatasan verbal mereka.

    Terapi Perilaku.

Adalah mengajarkan anak perilaku baru dengan cara mengubah lingkungan, mengajarkan keterampilan baru atau mengubah proses kognitif dan emosional anak.

    Terapi Keluarga.


Dalam terapi ini semua anggota keluarga yang terkait, bukan hanya anak, bertemu bersama-sama dengan terapis dengan tujuan memecahkan masalah mereka.

    Fisioterapis.

Bagi anak-anak dengan kelainan yang memerlukan fungsi anggota tubuh meskipun kelainan-kelainan pada anak seringkali muncul bukan karena penyebab tunggal, maka kelainan pada anak harus didefinisikan dalam pemahaman penyimpang dari perilaku normal dan dibandingkan dengan pencapaian yang biasa dicapai oleh anak-anak lain dalam rentang usia yang sama.
 (Sumber: www.irwansahaja.blogspot.com)
Read More

Bimbingan Karir bagi Siswa Menengah Atas (SMA/SMU)

Bimbingan karir yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan,pengembangan dan pemecahan masalah-masalah karir seperti : pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan masalah-masalah karir yang dihadapi.Bimbingan karir juga merupakan layanan pemenuhan kebutuhan perkembangan individu sebagai bagian integral dari program pendidikan. Bimbingan karir terkait dengan perkembangan kemampuan kognitif, afektif maupun keterampilan individu dalam mewujudkan konsep diri yang positif, memahami proses pengambilan keputusan, maupun perolehan pengetahuan dalam keterampilan yang akan membantu dirinya memasuki system kehidupan social budaya yang terus menerus berubah.

Bimbingan karir merupakan upaya bantuan terhadap individu agar dapat mengenal dan memahami dirinya, mengenal dunia kerjanya, mengembangkan masa depannya yang sesuai dengan bentuk kehidupannya yang diharapkan. Dengan layanan bimbingan karir, individu mampu menentukan dan mengembil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab keputusan yang diambilnya sehingga mereka mampumewujudkan dirinya secara bermakna. Bimbingan karir adalah sebuah hal yang paling penting untuk mengarahkan siswa-siswa sesuai dengan minat dan potensi yang dimilikinya. Pemilihan karir yang tepat pada siswa, akan memberikan kepuasan dan akan meraih hasil yang maksimal.

Bimbingan karir juga merupakan salah satu bidang dalam bimbingan dan konseling yang ada di sekolah-sekolah. Menurut Winkel (2005:114) bimbingan karir adalah bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, dalam memilih lapangan kerja atau jabatan /profesi tertentu serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lapanan pekerjaan yang dimasuki. Bimbingan karir juga dapat dipakai sebagai sarana pemenuhan kebutuhan perkembangan peserta didik yang harus dilihat sebagai bagaian integral dari program pendidikan yang diintegrasikan dalam setiap pengalaman belajar bidang studi.
Bimbingan karir adalah suatu proses bantuan, layanan dan pendekatan terhadap individu (siswa/remaja), agar individu yang bersangkutan dapat mengenal dirinya, memahami dirinya, dan mengenal dunia kerja merencankan masa depan dengan bentuk kehidupan yang diharapkan untuk menentukan pilihan dan mengambil suatu keputusan bahwa keputusannya tersebut adalah paling tepat sesuai dengan keadaan dirinya dihubungkan dengan persyaratan-persyaratan dan tunutan pekerjaan / karir yang dipilihnya (Ruslan A.Gani : 11)

Menurut Herr bimbingan karir adalah suatu perangkat, lebih tepatnya suatu program yang sistematik, proses, teknik, atau layanan yang dimaksudkan untuk membantu individu memahami dan berbuat atas dasar pengenalan diri dan pengenalan kesempatan-kesempatan dalam pekerjaan, pendidikan, dan waktu luang, serta mengembangkan ketrampilan-ketrampilan mengambil keputusan sehingga yang bersangkutan dapat menciptakan dan mengelola perkembangan karirnya (Marsudi, 2003:113).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan karir adalah suatu upaya bantuan terhadap peserta didik agar dapat mengenal dan memahami dirinya, mengenal dunia kerjanya, mengembangkan masa depan sesuai dengan bentuk kehidupan yang diharapkannya, mampu menentukan dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggungjawab.
Kekeliruan pada pemilihan karir, akan berdampak secara luas pada kehidupan seseorang selanjutnya, yang kemungkinan akan menurunkan prestasi bahkan frustasi dan gangguan psikologis, karena ketidakmampuan beradaptasi, hasil yang diperoleh tidak maksimal, tertutupinya bakat-bakat bawaan yang sebenarnya lebih dominan dan lain-lain.

Salah satu tempat yang paling tepat dalam pengarahan dan pencerahan pemilihan minat dan bakat (bimbingan karir) adalah pada saat usia remaja, sekitar usia sekolah menengah atas. Bahkan dirasakan, pemilihan karir pada usia ini adalah sebuah kewajiban untuk membantu siswa-siswa menentukan karirnya kedepan. Usia ini, merupakan pangkal dari masalah seseorang yang akan dijalaninya pada usia perkembangan selanjutnya.

Salah satu cara untuk mengarahkan dan membantu siswa memberikan bimbingan ini adalah dengan menggunakan tes psikologi. Tes psikologi untuk bimbingan karir, biasanya tidak hanya satu alat tes, tetapi beberapa tes yang akan di compare, untuk menentukan dan mengarahkan langkah apa yang seharusnya diambil oleh siswa dengan karirnya kedepan. Diharapkan dengan bimbingan karir ini, siswa lebih terfokus pada sesuatu yang memang diminatinya, berbakat dibidangnya dan mempunyai kemampuan tentangnya.

sumber : http://www.psychoshare.com/file-1987/psikologi-pendidikan/bimbingan-karir-bagi-siswa-smu.html
Read More

Psikologi Kepribadian Seseorang dari Gaya Selfie, Kamu Yang Mana ?

Budaya selfie telah melahirkan cara baru memperlihatkan citra diri di internet. Ya, kecanggihan telepon genggam dengan kualitas kamera yang tinggi membuat banyak orang gemar melakukan selfie. Tapi tahukah Anda bahwa gaya selfie mencerminkan kepribadian seseorang?
Nah, berikut ini adalah beberapa jenis kepribadian dilihat dari gaya selfie-nya seperti yang dilansir dari Times of India.


Couplie
Couplie yang merupakan kepanjangan dari couple selfie atau selfie bersama pasangan adalah salah satu gaya selfie yang populer. Orang yang sering melakukan couplie umumnya sangat bangga akan pasangannya dan ingin memperlihatkan kepada dunia kemesraan mereka.

Friend selfie
Orang yang gemar ber-selfie ria bersama teman-temannya biasanya merupakan pribadi yang easy going dan supel sehingga mereka memiliki begitu banyak teman dekat. Ia juga cenderung lebih sosial dan ingin berbagi momen menggembirakan pada banyak orang.

Make-up selfie
Merias wajah adalah salah satu hobi wanita yang paling umum. Nah, untuk para kaum hawa yang gemar melakukan selfie sehabis merias wajah, mereka biasanya ingin memperlihatkan kepiawaian mereka dalam hal make-up dan ingin terlihat cantik di depan orang-orang.

Belfie

Selfie yang satu ini lebih sering dilakukan para selebriti seperti Kim Kardashian dan Nicki Minaj yang gemar mengabadikan momen saat mengenakan pakaian super seksi.
Orang yang melakukan selfie semacam ini umumnya begitu mengagumi tubuhnya sendiri dan ia ingin dunia tahu bahwa ia memiliki tubuh yang seksi.

Braggie
Braggie juga sering disebut sebagai selfie yang dilakukan saat berlibur ke sebuah tempat. Ya, orang yang pergi berlibur dan banyak melakukan selfie cenderung memiliki hasrat untuk memamerkan liburannya kepada teman-teman di media sosial. Ia juga gemar membuat iri banyak orang.

No make-up selfie
Wanita yang melakukan selfie dengan wajah tanpa riasan adalah wanita yang percaya diri. Selfie tanpa riasan juga merupakan potret diri seorang wanita yang mencerminkan keyakinan dan kecantikan alami.

Filtered selfie
Jika Anda menggunakan filter sebelum mengunggah setiap selfie yang Anda lakukan, bisa jadi Anda bukan orang yang percaya diri akan penampilan diri sendiri.
Anda juga cenderung menutupi kekurangan diri dan hanya ingin orang lain melihat Anda sebagai seseorang yang sempurna. Ini juga bisa menjadi tanda bahwa Anda tidak nyaman dengan penampilan diri sendiri.

Gym selfie

Olahrga memang telah menjadi tren bagi kaum urban di kota-kota besar. Tentu saja, tren ini tidak luput dari lensa kamera.

Mereka yang gemar melakukan selfie saat di gym atau saat berolahraga biasanya ingin memperlihatkan kebiasaan sehat kepada orang-orang. Banyak pula yang ingin memamerkan otot atau tubuh indah mereka untuk menarik lawan jenis. (Sumber: viva.co.id)
Read More

Bicara Cinta: Dalam Perspektif Psikologi Barat

Cinta” kata-kata ini bila didengar membuat siapa saja mendengarnya tersipu senyum malu. Bahkan ketika dalam kondisi marah sekalipun, mengucapkan kata cinta tetap melambangkan sebuah kebaikan, bagi pengucap dan pendengarnya. Tulisan ini dikemas secara eksklusif, sistematis dan ditulis dalam sudut pandangan akademis. Tulisan ini merupakan kajian kritis terhadap sub tema dalam karya Dr. Lynn Wilcox. Dalam tulisan ini penulis mengungkap hakikat cinta dari perspektif psikologi Barat.

Fromm menyatakan bahwa cinta sejati memiliki beberapa elemen diantaranya: kepeduliaan, tanggung jawab, rasa menghargai dan pengetahuan. Leo Buscagla menyatakan bahwa cinta yang sempurna adalah jika seseorang memberikan segalanya dan tidak mengharapkan apa-apa dan tidak meminta apa-apa, dia tidak akan pernah merasa dicampakkan atau dikecewakan. Lebih lanjut menurut Fromm cinta dan diri adalah satu kesatuan, pertemuan keduannya merupakan realisasi dari kedua hal tersebut.

Lebih lanjut Fromm menyatakan bahwa seseorang yang mampu mencintai adalah seseorang yang mampu mencintai dirinya sendiri, jika dia tidak mampu mencintai dirinya sendiri, maka dia tidak bisa mencintai sama sekali. Theodor Reik menyatakan bahwa cinta merupakan usaha untuk menenangkan tekanan dalam diri, mengurangi ketidaksesuaian dalam diri, menggantikan objek cinta untuk ego ideal.

Lebih lanjut menurut Rollo May ada empat macam cinta dalam kebudayaan Barat yang terkait dengan kebudayaan Yunani Kuno. Pertama adalah sex (nafsu, libido). Kedua adalah eros (dorongan cinta untuk mencipta, keinginan menuju bentuk tertinggi suatu hubungan). Ketiga, cinta pada saudara philia. Keempat adalah agape (memberi tanpa meminta, seperti bentuk cinta Tuhan pada manusia). Dalam pandangan May, macam cinta yang sesungguhnya terletak pada bentuk sex dan eros.

Hal ini senada dengan John Ciardi menyatakan bahwa cinta adalah kata yang digunakan untuk melambangkan kegembiraan seksual pada usia muda, kebiasaan pada usia tengah dan ketergantungan mental pada usia senja. Di Amerika Serikat, secara ekonomis cinta romantik sangat menguntungkan. Bermilyar-milyar uang telah dikeluarkan untuk membeli produk dari iklan yang menjanjikan dapat membuat seseorang lebih menarik sebagai kekasih. Lebih lanjut penelitian yang dilakukan oleh Berscheid yang menyimpulkan bahwa cinta yang romantik di Amerika Serikat adalah 90% hasrat seksual. Sehingga jelas bahwa produk “cinta” yang dijual oleh produsen adalah murni hasrat seksual.

Berdasarkan penjelasan mengenai kajian cinta dalam perspektif psikologi Barat. Penulis memberikan pandangan terhadap pendapat tokoh psikologi Barat. Cinta dalam pandangan psikologi Barat merupakan hubungan lawan jenis yang berbentuk hubungan seksual. Sehingga bentuk cinta kepada saudara dan kecintaan terhadap Tuhan semuanya dikesampingkan, bukanlah hal yang menjadi fokus dalam kehidupan manusia. Ada pertanyaan besar yang dapat diajukan dalam kajian ini. Apakah konsep cinta yang terfokus pada bentuk hasrat seksual dapat diterapkan di belahan bumi Timur ?.

Bahkan seorang ilmuwan psikologi mengkritik hakikat cinta dari pandangan psikologi Barat. Ashley Montague menyatakan bahwa kata cinta telah digunakan dalam bayak arti yang sangat merendahkan, sehingga arti buruk telah menutupi yang baik.

Oleh: Iredho Fani Reza, S.Psi.I
Kandidat Master Bidang Psikologi Islam
Sekolah Pascasarjana UIN Syraif Hidayatullah Jakarta
iredhofanireza@rocketmail.com

Referensi Lanjutan:
Tulisan ini merupakan kajian terhadap karya yang ditulis oleh Lynn Wilcox dengan judul Critism of Islam Psychology dengan sub tema tentang Love. Lebih lanjut buku karya Wilcox telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Wilcox, Lynn, Psikologi Kepribadian. Terjm. Kumalahadi P. Judul Asli: Critism of Islam Psychology. Yogyakarta: IRCiSoD, 2013

sumber : http://www.psychoshare.com/file-2005/psikologi-dewasa/bicara-cinta-dalam-perspektif-psikologi-barat.html
Read More

Persiapan Cara Sukses Dunia Kerja? Lakukan hal ini saat Kuliah!

Pada kenyataannya pendidikan saat ini dijadikan sebagai alat agar kita mampu bertahan hidup, mampu bersaing dengan individu lain, dan mampu menghadapi tantangan global. Tidak bisa dipungkiri bahwa semakin tinggi pendidikan maka akses menuju kesejahteraan hidup akan meningkat. Tetapi, kita tidak bisa mengelak bahwa ternyata ada pula orang-orang berpendidikan tinggi tetapi tidak secermelang yang diharapkan kehidupan paska kampusnya. Setelah lulus tentu saja para freshgraduate ini akan sibuk mencari lowongan kerja, sebagian para pencari kerja ini memperoleh pekerjaan yang diinginkan hanya dalam 1-2 bulan setelah lulus, adapun yang memperoleh kerja 6 bulan-1 tahun, adapun menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kerja. Setelah memasuki dunia kerjapun ternyata nasib karier seseorang berbeda. Ada yang cepat naik jabatan, ada pula yang mandeg. Lalu apa saja hal-hal yang menjadikan freshgraduete berbeda setelah lulus? Hal ini tidak lepas dari apa yang diperoleh saat kuliah.

Masa kuliah adalah masa pembentukan pola paten perilaku, kebiasaan, dan cara berfikir yang akan dibawa sampai hari tua. Hal ini disebabkan usia individu paska kuliah sudah memasuki fase dewasa yang mana pada fase ini pola manusia secara karakteristik sudah terbentuk dan tidak plastis sebagaimana anak-anak. Masa kuliah adalah masa yang penuh pilihan, baik pilihan yang akan memberikan peluang maupun hambatan di masa berikutnya. Kehidupan ini adalah seleksi alam, kepunahan dinausaurus adalah akibat ketidakmampuan beradaptasi hewan tersebut dengan lingkungan. Untuk itu, masa kuliah harus dikelola dengan baik agar saat memasuki dunia kerja kita dapat beradaptasi dengan baik serta mampu bertahan ditengah persaingan.

Berorganisasi tidak asal organisasi

Dunia kerja adalah dunia yang mengaplikasikan sistem struktur mekanis. Apa itu struktur mekanis ? Struktur mekanis adalah sebuah tipe struktur pada lembaga yangmana individu dalam lembaga tersebut memiliki jabatan, fungsi dan tugas-tugas yang jelas, serta sistem kerja seperti gear, matinya satu roda gear akan mematikan seluruh kinerja. Nah, hal inilah yang tidak dibelajarkan dikelas, saat teman kita nilai ujian E/ performanya buruk di kelas tidak akan berpengaruh pada sistem kelas. Berbeda dengan sistem pada organisasi, satu departemen tidak menjalankan tugasnya dengan baik akan mempengaruhi departemen yang lain dan mempengaruhi keberlangsungan organisasi, dalam dunia organisasi kita diajarkan dalam situasi tuntutan kerjasama yang tinggi, kerja cepat dan tepat. Sehingga, teman-teman yang berorganisasi saat kuliah sudah memiliki bekal untuk beradaptasi dalam situasi seperti ini.

Selanjutnya dunia kerja memiliki persaingan yang keras hanya orang-orang kreatif, inovatif dan inisitatif. Hal ini disebabkan oleh perusahaan atau institusi selalu berorientasi pada pencapaian tujuan, sehingga perusahaan akan terus melakukan modifikasi produk, tentu saja hal ini menuntut individu dalam organisasi yang penuh kreatif, inovatif dan inisitatif.Teman-teman yang saat kuliah berkecimpung dalam organisasi tidak akan kaget dan biasanya memiliki banyak gagasan, hal ini karena mereka sudah terlatih. Berorganisasi saat kuliah tentu saja tidak asal organisasi, maksudnya adalah berorganisasi memiliki tujuan untuk belajar banyak hal, memiliki banyak jaringan yang selanjutnya akan dijelaskan pada poin ke dua

Jaringan sesuai rencana karier

Jaringan sebagai agen penting untuk promosi diri terutama jaringan sesuai rencana karier. Jaringan dapat diperoleh melalui berbagai cara diantaranya berorganisasi, gabung komunitas, terhubung di sosial media, mengikuti berbagai forum diskusi. Jaringan pada dasarnya adalah komponen penunjang yang tidak bisa dihiraukan, saat terhubung dengan jaringan ada baiknya kita tidak membuang waktu. Manfaatkan momen dengan jaringan sebagai ajang promosi diri, berikan kesan terbaik, ramahlah, dan jadi pribadi yang menyenangkan serta tunjukan bahwa anda orang yang berkualitas

Pengalaman extra ordinary

IPK tinggi adalah hal yang memang tidak bisa disepelekan tetapi ini terlalu biasa, begitu juga dengan berorganisasi, banyak sekali teman-teman di sekitar kita yang menekuni berbagai organisasi. Sehingga, untuk menjadi lebih unggul dibandingkan yang lain lakukan pengalaman yang extra ordinary yang tidak banyak teman-teman kampus lakukan semisal nilai TOEFL tinggi dan mengikuti program exchange, short course, memiliki talenta dalam disain, menjuarai lomba, mengikuti konferensi, menerbitkan buku/tulisan. Pengalaman extra ordinary inilah yang akan membekali softskill yang tidak diajarkan di dalam kelas

Makan-makanan sehat dan perhatikan kesehatan

Inilah yang paling banyak mahasiswa sepelekan . Padahal, kesehatan adalah investasi jangka panjang. Salah satu penyebab kegagalan freshgraduete dalam rangkaian proses seleksi kerja adalah pada Medical Test atau tes kesehatan. Pada tahapan tes ini calon karyawan melakukan pemeriksaan kadar kolesterol, gula darah, tes darah, dllserta diprediksikan potensi serta resiko kesehatan yang mana hasil tes yang dilakukan dokter ini akan menjadi rujukan bagi perusahaan untuk menerima atau menolak calon karyawan tersebut. Sakit tidak terjadi begitu saja, melainkan ada proses dimana individu mengabaikan salah satu aspek kesehatan dan tidak memperhatikan faktor-faktor resiko sakit.

Penulis : Ditta Nisa Rofa (Student of Gadjah Mada University)
Read More

Kepribadian Marxian Menurut Erich Fromm (Bagian 1)

Fromm sangat dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Karl Marx, terutama oleh karyanya yang pertama, The economic philosophical manuscripts yang ditulis pada tahun 1944. Tema dasar ulisan Fromm adalah orang yang merasa kesepian dan terisolasi karena ia dipisahkan dri alam dan orang-orang lain. Kedaan isolasi ini tidak ditemukan dalam semua spesies binatang, itu adalah situasi khas manusia.

Erich Fromm lahir di Frankfurt, Jerman pada tanggal 23 Maret 1900. Ia belajar psikologi dan sosiologi di University Heidelberg, Frankfurt, dan Munich. Setelah memperoleh gelar Ph.D dari Heidelberg tahun 1922, ia belajar psikoanalisis di Munich dan pada Institut psikoanalisis Berlin yang terkenla waktu itu. Tahun 1933 ia pindah ke Amerika Serikat dan mesngajar di Institut psikoanalisis Chicago dan melakukan praktik privat di New York City. Ia pernah mengajar pada sejumlah universitas dan institut di negara ini dan di Meksiko. Terakhir, Fromm tinggal di Swiss dan meninggal di Muralto, Swiss pada tanggal 18 Maret 1980.

Fromm dapat digelari teoritis kepribadian Marxian, pandangannya sangat dipengaruhi oleh Karl Marx. Nama teorinya “humanis dialetik,” karena ingin menunjukan perhatiannya terhadap perjuangan manusia yang tidak pernah menyerah untuk memperoleh martabat dan kebebasan, kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan orang lain. Berikut ini kita akan mengulas lebih dalam mengenai teori-teori Fromm.

KONDISI EKSISTENSI MANUSIA


DILEMA EKSISTENSI

Menurut Fromm, hakekat manusia juga bersifat dualistic. Empat dualistic dalam diri manusia menurutnya:

Manusia sebagai binatang dan sebagai manusia
Manusia sebagai binatang memiliki banyak kebutuhan fisiologik. Manusia sebagai manusia memiliki kebutuhan kesadaran diri.

Hidup dan mati
Manusia telah mengetahui dia akan mati, tetapi berusaha mengingkarinya.

Ketidaksempurnaan dan kesempurnaan
Manusia mampu mengkonsepsikan realisasi-diri yang sempurna, tetapi karena hidup itu pendek kesempurnaan tidak dapat dicapai.

Kesendirian dan kebersamaan
Manusia adalah pribadi yang mandiri, sendiri, tetapi manusia juga tidak bisa menerima kesendirian.

Dua cara menghindari dilema eksistensi:

– Menerima otoritas

– Menciptakan ikatan dan tanggung jawab bersama

KEBUTUHAN MANUSIA


Dua kelompok kebutuhan;

Kebutuhan menjadi bagian dari sesuatu dan menjadi otonom
Kebutuhan memahami dunia, bertujuan dan memanfaatkan sifat unik manusia
Kebutuhan kebebasan dan keterikatan
Keterhubungan (relatedness)
Kebutuhan mengatasi perasaan kesendirian dan terisolasi dari alam dan dari dirinya sendiri. Bergabung dengan makhluk lain yang dicintai.
2. Keberakaran (rootedness)
Kebutuhan keberakaran adalah kebutuhan untuk memiliki ikatan-ikatan yang membuatnya merasa krasaan di dunia. Dua alasan manusia menjadi asing dengan dunianya, (a) direnggut dari akar-akar hubungannya oleh situasi (b) fikiran dan kebebasan yang dikembangkannya sendiri justru memutus ikatan alami dan menimbulkan perasaan isolasi.

3. Menjadi pencipta (transcendency)
Orang membutuhkan peningkatan diri, berjuang untuk mengatasi sifat pasif dikuasai alam menjadi aktif, bertujuan dan bebas, dari makhluk ciptaan menjadi pencipta.

4. Kesatuan (unity)
Kebutuhan untuk mengatasi eksistensi keterpisahan antara hakekat binatang dan non binatang dalam diri seseorang. Orang dapat mencapai unitas, kalau hakekat kebinatangan dan kemanusiaan itu bisa didamaikan.

5. Identitas (identity)
Kebutuhan untuk menjadi “aku” kebutuhan untuk sadar dengan dirinya sendiri sebagai sesuatu yang terpisah. Orang sehat memiliki perasaan identitas yang otentik.

Kebutuhan untuk memahami dan beraktivitas
Kerangka orientasi (frame of orientation)
Kerangka orientasi adalah seperangkat keyakinan mengenai eksistensi hidup, perjalanan hidup-tingkahlaku bagaimana yang harus dikerjakannya, yang mutlak dibutuhkan untuk memperoleh kesehatan jiwa.

2. Kerangka kesetiaan (frame of devotion)
Kebutuhan untuk memiliki tujuan hidup yang mutlak;Tuhan. Kerangka pengabdian adalah peta yang mengarahkan pencarian makna hidup, menjadi dasar dari nilai-nilai dan titik puncak dari semua perjuangan.

3. Keterangsangan-stimulasi (excitation-stimulatioan)
Kebutuhan untuk melatih sistem syaraf, memanfaatkan kemampuan otak.

4. Keefektivan (effectivity)
Kebutuhan untuk menyadari eksistensi diri melawan perasaan tidak mampu dan melatih kompetensi/kemampuan.

Fromm: orang yang mentalnya sehat adalah yang mampu bekerja produktif sesuai dengan tuntutan lingkungan sosialnya, sekaligus mampu berpartisipasi dalam kehidupan social yang penuh cinta. Menurutnya normalitas adalah keadaan optimal dari pertumbuhan (kemandirian) dan kebahagiaan (kebersamaan) dari individu.

Dua cara untuk memperoleh makna dan kebersamaan dalam kehidupan.

Mencapai kebebasan positif, berusaha menyatu dengan orang lain tanpa mengorbankan kebeban dan integritas pribadi.
Memperoleh rasa aman dengan meninggalkan kebebasan dan menyerahkan bulat-bulat individualitas dan integritas diri kepada sesuatu yang dapat memberi rasa aman. Tiga mekanisme pelarian:
Otoritarianisme (autboritarianism)
Kecenderungan untuk menyerahkan kemandirian diri dan menggabungkannya dengan seseorang atau sesuatu diluar dirinya, untuk memperoleh kekuatan yang dirasakan tidak dimilikinya. Masokisme merupakan bentuk tersembunyi dari perjuangan memperoleh cinta dan kesetiaan, tetapi tidak memberi sumbangan positif kekemandirian. Ada tiga jenis sadism yang saling berkaitan. Sadism merupakan bentuk neorotik yang lebih parah dan lebih berbahaya dibanding masokisme.

Perusakan (destructiveness)
Destruktif mencari kekuatan tidak melalui membangun hubungan dengan pihak luar, tetapi melalui usaha membalas/merusak kekuatan orang lain. Psikoneurosis dan bunuh diri adalah strategi pelarian dari ketakutan menjadi manusia bebas.

Penyesuaian (conformity)
Konformis tidak pernah mengekspresikan opini dirinya, menyerahkan diri kepada standar tingkahlaku yang diharapkan, dan sering tampil diam dan mekanis. Orang hanya dapat memecah lingkaran penyesuaian dengan ketakberdayaan ini kalau bisa mencapai realisasi-diri atau kebebasan yang positif.

TRIPOLOGI SOSIAL KARAKTER SOSIAL


Fromm: karakter manusia berkembang berdasarkan kebutuhan mengganti insting kebinatangan yang hilang ketika mereka berkembang tahap demi tahap. Karakter, tidak berubah lintas waktu, membuat manusia mampu berfungsi di dunia yang terus menerus memberi stimulus tanpa harus berhenti memikirkan apa yang harus dikerjakan.

Fromm: karakter berkembang dan dibentuk oleh “social arrangements”.Fromm membedakan 2 karakter social dalam pasangan, productiveness dan nonproductiveness.

KARAKTER DAN MASYARAKAT


Orientasi market adalah produk masyarakat dewasa ini yang peluang interprenernya dikurangi, dan orang harus menyesuaikan diri ke dalam organisasi yang besar dan memerankan peran yang dikehendaki organisasi. Masyarakat membentuk karakter pribadi melalui orangtua dan pendidik yang membuatanak bersedia bertingkahlaku seperti yang dikehendaki masyarakat. Fromm: tidak semua kebutuhan manusia harus dipuaskan; jika saja jumlah materi yang dapat dimiliki hanya sedikit dan insentif untuk mendapatkannya juga sedikit, mungkin akan bebas untuk memuaskan dirinya secara lebih kreatif.


APLIKASI SOSIALISME KOMUNITARIAH HUMANISTIK (HUMANISTIC COMMUNITARIAN SOCIALISM)

Empat proposisi Fromm mengenai hubungan seseorang dengan masyarakat:


  1. Manusia mempunyai kodrat esensial social bawaan
  2. Masyarakat diciptakan manusia untuk memenuhi kodrat esensial bawaan ini
  3. Tidak satupun bentuk masyarakat yang pernah diciptakan manusia berhasil memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar eksistensi manusia
  4. Adalah mungkin menciptakan masyarakat semacam ini

Masyarakat yang disarankan Fromm adalah humanistic communitarian socialism. Dalam masyarakat semacam itu orang mencapai perasaan diri dan mampu berbuat kreatif ali-alih destruktif. Ada “humanistic management” (sistem yang mirip dengan temu kota di New England). Ide Fromm mungkin bagus tetapi banyak yang tidak dapat dilaksanakan.

KARAKTER MASYARAKAT

1957, Fromm melakukan penelitian di sebuah desa di Meksiko mengenai karakter masyarakat. Ada dua kesimpulan penting.

Ternyata masyarakat memiliki tiga jenis karakter

  1. Productive-boarding
  2. Nonproductive-receptive
  3. Productive-exploitative

Karakter pribadi dan karakter social berhubungan timbale balik. Karakter pribadi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh struktur social dan perubahan-perubahan social.

PSIKOTERAPI: PSIKOANALISIS HUMANISTIK

Fromm mengembangkan sistem terapi sendiri, (psikoanalisis humanistic). Menurutnya tujuan klien dalam terapi adalah memahami diri sendiri dan mencari kepuasan dari kebutuhan dasar kemanusiaannya, karena itu terapi harus dibangun melalui hubungan pribadi antara terapis dengan kliennya. Menurutnya terapis tidak seharusnya terlalu ilmiah dalam memahami kliennya. Hanya dengan sikap keterhubungan orang lain dapat benar-benar dimengerti. Klien hendaknya tidak dilihat sebagai orang sakit, tetapi diterima sebagai manusia dengan kebutuhan-kebutuhannya yang tidak berbeda dengan kebutuhan terapis.

EVALUASI


Inti dari semua tulisan Fromm adalah mengungkap hakekat manusia. Pendekatan Fromm pada kepribadian mempunyai perspektif dan proposisi yang luas. Menyerap informasi dari disiplin lain. Baginya psikologi bukan saja ilmu yang aplikatif pada semua ranah kemanusiaan, tetapi sebagai ilmu psikologi juga memasukkan semua fikiran yang berkenaan dengan kemanusiaan.

Data penelitian Meksiko muncul sesudah teori dikembangkan, bukan sebelumnya. Teori Fromm yang dikembangkan melalui filsafat dualistic akhirnya disikapi secara dualistic. Tahun 1950-an orang belum dianggap ilmuwan kalau belum membaca Escape From Freedom. Selama 30 tahun terakhir dalam literature psikologi, hanya ada enam penelitian yang dimaksudkan menguji asumsi-asumsi dalam teori Fromm. (Sumber: wwwirwansahaja.blogspot.com)

(Sumber: www.irwansahaja.blogspot.com)
Read More

Teknik Umum Konseling Individual

Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum, diantaranya :

1. Perilaku Attending

Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik dapat :
  • Meningkatkan harga diri klien.
  • Menciptakan suasana yang aman
  • Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas.
Contoh perilaku attending yang baik :
  • Kepala : melakukan anggukan jika setuju
  • Ekspresi wajah : tenang, ceria, senyum
  • Posisi tubuh : agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan.
  • Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah, menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan tangan untuk menekankan ucapan.
  • Mendengarkan : aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.
Contoh perilaku attending yang tidak baik :
  • Kepala : kaku
  • Muka : kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara, mata melotot.
  • Posisi tubuh : tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling.
  • Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara.
  • Perhatian : terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.

2. Empati

Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan dengan perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati.

Terdapat dua macam empati, yaitu :

1. Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”.” Saya mengerti keinginan Anda”.
2. Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.

3. Refleksi

Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Terdapat tiga jenis refleksi, yaitu :

  • Refleksi perasaan, yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah ….”
  • Refleksi pikiran, yaitu teknik untuk memantulkan ide, pikiran, dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…”
  • Refleksi pengalaman, yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…”

4. Eksplorasi

Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam. Seperti halnya pada teknik refleksi, terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi, yaitu :

  • Eksplorasi perasaan, yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan ….”
  • Eksplorasi pikiran, yaitu teknik untuk menggali ide, pikiran, dan pendapat klien. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”.
  • Eksplorasi pengalaman, yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda”

5. Menangkap Pesan (Paraphrasing)

Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons klien terhadap konselor. Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien; (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan ; (3) memberi arah wawancara konseling; dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien.

Contoh dialog :

Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik, akan tetapi saya tidak mengambilnya. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ”
Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu.”

6. Pertanyaan Terbuka (Opened Question)

Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan, pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien, jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Oleh karenanya, lebih baik gunakan kata tanya apakah, bagaimana, adakah, dapatkah.

Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan?  ”

7. Pertanyaan Tertutup (Closed Question)

Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka, dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup, yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi; (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu; dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. Contoh dialog :

Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”.
Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”.
Klien : ” Empat ”
Konselor: ” Sekarang berapa ? ”
Klien : ” Sebelas ”

8. Dorongan minimal (Minimal Encouragement)

Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…, ya…., lalu…, terus….dan…

Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Contoh dialog :

Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan)
Konselor: ” ya…”
Klien : ” nekad bunuh diri”
Konselor: ” lalu…”

9. Interpretasi

Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran, perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori, bukan pandangan subyektif konselor, dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Contoh dialog :

Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga, karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya.”
Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. Karena tantangan masa depan makin banyak, maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Membantu orang tua memang harus, namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”.

10. Mengarahkan (Directing)

Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu.

Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Saya tak dapat lagi menahan diri. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.”
Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya, bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.”

11. Menyimpulkan Sementara (Summarizing)

Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan; (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap; (3) meningkatkan kualitas diskusi; (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. Contoh :

” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan, kita sudah sampai pada dua hal: pertama, tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas; kedua, namun masih ada hambatan yang akan hadapi, yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi, dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki.”
Sumber:

Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta

H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.

Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG

Lesmana, J.M. 2005. Dasar-dasar Konseling. Jakarta : UI-Press
May Rollo.2003. The Art of Counseling. New Jersey : Prentice Hall, Inc
Prayitno. 2005. Layanan Konseling Perorangan. Padang : FIP Universitas Negeri Padang
Read More

Hati-hati, Stiker Keluarga di Mobil Bisa Membahayakan Keluarga Anda!

Akhir-akhir di Jakarta pengguna mobil banyak yang menempelkan stiker keluarga mereka di kaca belakang mobil. Mungkin sekilas stiker yang menunjukkan anggota keluarga terlihat begitu unik dan lucu, serta menggambarkan keluarga yang harmonis.

Namun, tren di kalangan pengguna mobil yang menempelkan stiker keluarga pada kaca belakangnya, disebut-sebut bisa menimbulkan niat jahat sang pelaku. Karena di situ berisi informasi jumlah anggota keluarga dan gambaran anak-anak yang ada dalam keluarga tersebut.


Namun apakah semua pengguna mobil menyadari potensi bahaya pada pemasangan stiker keluarga ini? Ternyata tidak, kebanyakan hanya mengatakan hal tersebut ingin menggambarkan sebuah keluarga yang harmonis dan sekedar ikut-ikutan tren yang lagi booming ini.

Namun tahukah Anda stiker tersebut bisa membahayakan Anda sebagai pengendara dan keluarga Anda sebagai penumpang.

Karena Anda sebagai pengendara jelas memberitahukan kepada penjahat informasi mengenai jumlah keluarga Anda, nama anak dan mungkin tempat anda bekerja. Tidak sampai disitu, jika ada seorang penculik anak yang ingin mengetahui berapa jumlah anak yang Anda. Tentu hal ini sangat mudah untuk penculik untuk mengetahui berapa jumlah anak yang Anda miliki. Dan tentu masih banyak lagi kejahatan yang bisa saja terjadi, karena Anda memberitahukan informasi keluarga Anda begitu transparan.

Kepolisian di Amerika pun menyarankan orangtua untuk tidak memasang lagi stiker keluarga. Intinya jangan memberi penjahat informasi yang gratis mengenai keluarga Anda. (ZF / berbagai sumber).

sumber : http://www.psychoshare.com/file-2017/psikologi-anak/2017.html
Read More

Trauma, Cara Mengatasi dan Menghilangkan

Trauma, pernahkah anda mendengarnya? Kemudian bagaimana cara mengatasi dan menghilangkan trauma? Pada waktu sekarang ini, banyak berita yang memuat tentang kejahatan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan lain-lain. Tentu sangat memperhatinkan, belum lagi konflik dan peledakan bom diberbagai tempat.


Mungkin esok hari berita sudah berganti dengan yang lain. Namun ada satu hal yang terlupakan, yakni efek dari kejadian tersebut. Lalu apa efek itu, efek itu adalah berupa trauma. Pada daerah pengungsian akibat konflik misalnya, bukan berarti begitu anak-anak atau wanita diungsikan lalu masalah selesai. Justru suatu masalah mungkin sedang dimulai.

Dalam buku Psikologi Abnormal oleh G.C.Davidson dkk, pada tahun 2000, jika berbicara tentang tindak kekerasan dan trauma, ada suatu istilah yang dikenal sebagai Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD (gangguan stres pasca trauma). Yaitu gangguan stres yang timbul berkaitan dengan peristiwa traumatis luar biasa. Misalnya, melihat orang dibunuh, disiksa secara sadis, korban kecelakaan, bencana alam, dan lain-lain.

PTSD merupakan gangguan kejiwaan yang sangat berat, karena biasanya penderita mengalami gangguan jiwa yang mengganggu kehidupannya. Secara umum gejala PTSD dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

Pertama, Reexperiencing. Perderita seperti mengalami kembali kejadian traumatis yang pernah dialami. Biasanya kondisi ini akan muncul ketika penderita sedang melamun atau melihat suasana yang mirip dengan pengalaman traumatisnya. Penderita dapat berperilaku mengejutkan, tiba-tiba berteriak, menangis, atau berlari ketakutan.

Fenomena lain juga dapat muncul seperti takut untuk tidur, karena begitu ia tidur peristiwa traumatis muncul kembali. Misalnya, peristiwa diperkosa atau pembunuhan yang berlangsung didepan mata.

Kedua, Hyperarousal. Suatu keadaan waspada berlebihan, seperti mudah kaget, tegang, curiga menghadapi gejala sesuatu, benda yang jatuh dia anggap seperti jatuhnya sebuah bom, dan tidur sering terbangun-bangun.

Ketiga, Avoidance. Seseorang akan selalu menghindari situasi yang mengingatkan ia pada kejadian traumatis. Seandainya kejadiannya saat suasana ramai, dia akan menghindari mall atau pasar. Begitu juga sebaliknya jika ia mengalami pada waktu sendiri, maka ia akan menghidari tempat-tempat sepi.

Jika PSTD tidak ditangani dengan benar, maka mempengaruhi kepribadian seseorang (perubahan kepribadian). Seperti paranoid (mudah curiga) misalnya. Kesulitan hal ini adalah jarang sekali penderita dengan kesadaranya datang ke para ahli. Apalagi stigma yang beredar dimasyarakat bahwa psikiater identik dengan orang sakit jiwa atau gila.

Lalu bagaimana cara mengatasi dan menghilangkan masalah trauma? Berbagai model psikoterapi telah dikembangakan untuk mengatasi PTSD, seperti, terapi perilaku, desensitisasi, hipnoterapi, semuanya cukup efektif asal penderita juga mendapatkan dukungan dari masyarakat lingkunganya dan juga orang terdekatnya.

Perlu untuk dibedakan, apakah seseorang sudah mengarah pada PTSD atau masih PTS (post traumatic sympton). Kalaupun masih PTS tidak akan sampai menimbulkan gangguan berat, masih dapat ditangani oleh psikolog yang terlatih. Yang perlu dilakukan adalah jangan sampai PTS menjadi PTSD. (psikologizone.com)

sumber : http://www.psychoshare.com/file-2011/psikologi-klinis/trauma-cara-mengatasi-dan-menghilangkan.html
Read More

Gangguan Psikologi pada Masa Kehamilan

Apa saja Gangguan Psikologi pada Masa Kehamilan ? Ayodibaca :

Gangguan psikologis pada pasangan infertile

Infertilitas merupakan suatu kondisi yang menunjukkan ketidakmampuan suatu pasangan untuk mendapatkan atau menghasilkan keturunan. Beda halnya infertil yang berarti kekurangmampuan suatu pasangan untuk menghasilkan keturunan dan bukan ketidakmampuan mutlak.



Penyebab infertilitas
  1. Usia kesuburan untuk pria didapat ketika berusia 24-25 tahun dan 21-24 tahun untuk wanita, sebelum usia tersebut kesuburan belum benar matang dan setelahnya berangkat menurun.
  2. Frekuensi hubungan seksual
  3. Lingkungan: baik fisik, kimia, maupun biologi ( radiasi, rokok, narkotik, alkohol, dan lain-lain).
  4. Gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu.
  5. Stress psikis mengganggu siklus haid libido, serta kesulitan spermatocista dan lain-lain.
  6. Kelainan anatomi dan fisiologi saluran reproduksi atau organ reproduksi wanita seperti vagina, uterus, serviks, tuba fallopi, dan ovarium.
  7. Faktor lain: prolactinoma( tumor pada hipofisis), hiper/hipotiroid (kelebihan / kekurangan hormon tiroid).
  8. Tanda gejala gangguan psikologis pada wanita infertilitas

Dalam buku psikologi wanita karangan kartini kartono (2006) disebutkan gambaran tentang gangguan psikologis pada wanita yang infertil yaitu sebagai berikut:


  1. Ada kebiasaan dan religi dari banyak suku bangsa di dunia yang menegaskan bahwa wanita tiddak mampu melahirkan anak adalah wanita binferior. Hal inilah yang membuat wanita yang tidak mampu memberikan keturunan menjadi rendah diri dan kehilangan percaya diri.
  2. Pada beberapa wanita yang lain, selalu berusaha mengingkari trauma sterilitasnya dengan justifikasi bahwa ia tidak menginginkan kehadiran anak dalam kehidupannya.
  3. Sebagai manifestasi dari sterilitassnya, banyak wanita infertil mengambil substitusi lain dengan cara mengembangkan hobi, meniti karier, mengadopsi anak, dan lainnya.
  4. Setiap kegagalan dan kekecewaan selalu diproyeksikan kepada orang lain.
  5. Adapula wanita steril yang memiliki sifat pseudo-keibuan, menghibur diri dengan memilih pekerjaan yang bersifat keibuan.
  6. Pengelolaan gangguan psikologis pada infertilitas

Gangguan psikologis pada infeertilitas merupakan siklus yang tidak terputus. Infertilitas dapat disebabkan oleh adanya gangguan psikologis yang menghambat proses reproduksi itu sendiri dan dampak dari infertilitas ini juga mengakibatkan gangguan psikologis. Adapun penanganannya dapat dilakukan dengan konseling baik secara individu atau konseling pasangan, mengingat kondisi ini melibatkan kedua belah pihak, yaitu suami dan istri.

Gangguan Psikologis pada Kehamilan Palsu (Pseudocyesis)

Kehamilan palsu adalah suatu keadaan dimana seorang wanita berada dalam kondisi yang menunjukkan berbagai tanda dan gejala kehamilan seperti tidak mendapatakan menstuasi, adanya mual muntah, pembesaran perut, peningkatan berat badan, dan gejala kehamilan lainnya bahkan kadang kala hasil tes urine dapat menjadi positif palsu(false positive), tetapi sesungguhnya tidak benar-benar hamil (Suririnah, 2005). Faktor yang sangat sering berhubungan dengan terjadinya kehamilan palsu adalah faktor emosional/psikis yang menyebabkan kelenjar pituitari terpengaruh sehingga menyebabkan kegagalan sistem endokrin dalam mengontrol hormon yang menimbulkan keadaan seperti hamil.

Tanda gejala gangguan psikologis pada pseudocyesis
Wanita dengan pseudocyesis memiliki kondisi psikologis seperti berikut ini:


  1. Adanya sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya yaitu ingin sekali menjadi hamil, sekaligus tidak ingin menjadi hamil. Ingin memiliki anak yang dibarengi dengan rasa takut untuk menetralisasi keinginan mempunyai anak.
  2. Keinginan untuk menjadi hamil terutama sekali tidak timbul dari dorongan keibuan, akan tetapi khusus dipacu oleh dendam , sikap bermusuhan, dan harga diri. Sebagai contoh pada wanita yang steril.
  3. Secara bersamaan muncul kesediaan untuk menyadari sekaligus kesediaan untuk tidak mau menyadari bahwa kehamilannya adalah ilustrasi belaka.
  4. Wanita dengan pseudocyesis tidak terlepas dari pseudologi, yaitu fantasi-fantasi kebohongan yang selalu ditampilkan ke depan untuk mengingkari hal-hal yang tidak menyenagkan.


Pengelolaan gangguan psikologis pada pseudocyesis
Peristiwa pseudocyesis merujuk pada peristiwa pseudologia, yaitu fantasi-fantasi kebohongan yang selalu ditampilkan ke depan untuk mengingkari atau menghindari realitas yang tidak menyenangkan. Wanita pseudocyesis ingin sekali menonjolkan egonya untuk menutupi kelemahan dirinya, oleh karena itu dipilihlah aliran konseling psikoanalisis dengan menekankan pentingnya riwayat hidup klien, pengaruh dari pengalaman diri pada kepribadian individu, serta irasionalitas dan sumber-sumber tak sadar dari tingkah laku manusia. Peran konselor dalam hal ini adalah menciptakan suasana senyaman mungkin agar klien merasa bebas untuk mengekspresikan pikiran-pikiran yang sulit.

Proses ini bisa dilakukan dengan meminta klien berbaring di sofa dan konselor di belakang (sehingga tidak terlihat). Konselor berupaya agar klien mendapat wawasan dengan menyelami kembali dan kemudian menyelesaikan pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan. Dengan begitu klien diharapkan dapat memperoleh kesadaran diri, kejujuran dan hubungan pribadi yang lebih efektif, dapat menghadapi ansietas dengan realistis, serta dapat mengendalikan tingkah laku irasional. (Lesmana, 2006).

Gangguan psikologis pada kehamilan di luar nikah

Remaja bisa saja mengatakan bahwa seks bebas atau seks pranikah itu aman untuk dilakukan. Namun, bila remaja melihat dan memahami akibat dari perilaku itu, ternyata lebih banyak membawa kerugian. Salah satu risikonya adalah kehamilan di luar nikah. Sungguh merupakan suatu permasalahan kompleks yang dapat menghancurkan segalanya, masa muda, pendidikan, kepercayaan dan kebanggan orang tua, serta pandangan negatif dari masyarakat. Selain itu, kehamilan yang tidak diinginkan yang juga mengarah pada tindakan aborsi kriminalis.

Tanda gejala gangguan psikologis pada kehamilan di luar nikah

Umumnya kehamilan di luar nikah dialami oleh remaja, dimana remaja dengan rentang usia 12-19 tahun memiliki kondisi psikis yang labil, karena masa ini merupakan masa transisi dan pencarian jati diri. Dengan kehamilan di luar nikah banyak permasalahan yang akan dihadapi oleh remaja natara lain adalah sebagai berikut:


  1. Timbulnya perasaan takut dan bingung yang luar biasa, terutama pada wanita yang menjadi objek akan merasakan ketakutan besar terhadap respons orang tua, dan biasanya mereka menutupi kehamilannya hingga didapatkan tindakan lain.
  2. Rasa ketakutan jika kekasih yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau menolongnya keluar dari kondisi yang rumit itu.
  3. Cemas jika sampai teman-temannya mengetahui, apalagi pihak sekolah yang mungkin saja akan mengeluarkannya dari bangku sekolah.
  4. Rasa takut yang timbul karena ia sangat tidak siap menjadi seorang ibu.
  5. Timbul keinginan untuk mengakhiri kehamilannya dengan aborsi (Kartono, K., 2007).

Pengelolaan gangguan psikologis pada kehamilan di luar nikah
Penatalaksanaan yang bisa dilakukan guna menangani permasalahan ini adalah dengan konseling humanistik, dimana manusia sebagai individu berhak menentukan sendiri keputusannya dan selalu berpandangan bahwa pada dasarnya manusia itu adalah baik (Rogers, 1971). Sebagai konselor yang ingin memberikan konseling perlu memiliki 3 karakter seperti berikut ini:


  1. Empati, adalah kemampuan konselor untuk merasakan bersama dengan klien, usaha berpikir bersama tentang dan untuk mereka (klien).
  2. Positive regard (acceptance), yaitu menghargai klien dengan berbagai kondisi dan keberadaannya.
  3. Congruence (genuineness), adalah kondisi transparan dalam hubungan terapeutik.

Oleh karena itu, di dalam menghadapi permasalahan kehamilan di luar nikah bagi para remaja, maka bidan dapat mmemberikan konseling bersama yaitu konseling keluarga, antara remaja itu sendiri, konselor dan pihak keluarga, mengingat orang tua masih memiliki andil yang besar pada kehidupan anak remaja mereka (Lesmana, 2006).

Gangguan psikologis pada kehamilan yang tidak dikehendaki 
Kehamilan yang tidak dikehendaki tidak hanya terjadi pada remaja akibat hubungan yang terlampau bebas, tetapi juga pada wanita yang telah menikah sebagai akibat dari kegagalan kontrasepsi dan penolakan pada jenis kelamin bayi yang ia kandung.

Tanda dan gejala gangguan psikologis pada wanita dengan kehamilan yag tidak dikehendaki
Pada kehamilan yang tidak dikehendaki, wanita merasa bahwa janin yang dikandungnnya bukanlah bagian dari dirinya dan berusaha untuk mengeluarkan dari tubuhnya melalui tindakan seperti aborsi.
Beberapa wanita bersikap katif-agresif , mereka sangat marah dan dendam pada kekasih dan suaminya yang merasa sanggup menanggung konsekuensi dari tindakannya. Selain itu, calon bayinya dianggap sebagai beban dan malapetaka bagi dirinya.

Pengelolaan gangguan psikologis pada wanita dengan kehamilan yang tidak dikehendaki
Penanganan dalam masalah ini tidak jauh berbeda dengan penanganan pada kehamilan di luar nikah. Perbedaannya hanya pada teknik konselingnaya-karena kehamilan ini terjadi pada wankta yang telah menikah- yaitu dengan konseling pasangan.

Gangguan psikologis pada kehamilan dengan keguguran 

Abortus spontan adalah suatu keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri di luar uterus (berat 400-1.000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu), sedangan abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis (Rustam, M., 1998).

Faktor penyebab abortus

  1. Kemiskinan atau ketidakmampuan ekonomi.
  2. Ketakutan terhadap orang tua.
  3. Moralitas sosial.
  4. Rasa malu dan aib.
  5. Hubungan cinta yang tidak harmonis.
  6. Pihak pria yang tidak bertanggung jawab.
  7. Kehamilan yang tidak diinginkan.

Tanda dan gejala gangguan psikologis pada abortus
Reaksi psikologis wanita terhadap keguguran bergantung pada konstitusi psikisnya sendiri.
Menimbulkan Sindrom Pasca-abortus yang meliputi menangis terus-menerus , depresi berkepanjangan, perasaan bersalah, ketidakmampuan untuk memaafkan diri sendiri, kesedihan mendalam, amarah, kelumpuhan emosional, problem atau kelainan seksual, kekacauan pola makan, perasaan rendah diri, penyalahgunaan alcohol dan obat-obatan terlarang, mimpi-mimpi buruk dan gangguan tidur lainnya, dorongan untuk bunuh diri, kesulitan dalam relasi serangan gelisah dan panik, serta selalu melakukan kilas balik.

Pengelolaan Gangguan Psikologis Pada Wanita Pasca-abortus
Sindrom Pasca-abortus berada dalam kategori “kekacauan akibat stress pasca-trauma”. The American Psychiatric Assosiation (APA) menjelaskan bahwa kekacauan akibat stress paca-trauma terjadi apabila orang mengalami suatu peristiwa yang melampaui batas pengalaman manusia biasa, di mana pengalaman ini hampir dipastikan akan mengguncangkan jiwa siapa saja. Sindrom pasca-abortus ditangani dengan konseling kejiwaan dan psikologis, namun demikian penyembuhan secara rohani juga diperlukan. Pada dasarnya, terapi konseling untuk wanita post-aborsi tidak jauh berbeda dengan konseling karena kehilangan, dimana dalam konseling ini harus memperhatikan setiap fase dalam penerapannya.

Gangguan Psikologi pada Kehamilan dengan Janin Mati
Kematian janin merupakan hasil akhir dari gangguan pertumbuhan janin, kegawatan janin, dan akibat infeksi yang tidak terdiagnosis sebelumnya sehingga tidak terobati ( Saipuddin, A.B, 2007).

Tanda dan Gejala Gangguan Psikologis pada Kehamilan dengan Janin Mati
Ibu dan bayi yang meninggal pada periode perinatal akan mengalami kesedihan yang mendalam. Selama kehamilan mereka telah mulai mengenali dan merasa dekat dengan bayinya. Ibu yang mengalami proses kehilangan/kematian janin dalam kandungan akan merasakan kehilangan. Pada proses berduka ini, ibu memperlihatkan perilaku yang khas dan merasakan reaksi emosional tertentu, yang dapat dikelompokkan dalam berbagai tahapan berikut.


  1. Menolak (denial). Ketika disampaikan janinnya mati,reaksi ibu pertama kali adalah syok dan menyangkal bahwa janinnya telah mati.
  2. Marah (anger). Beberapa ahli menyebutkan ini sebagai tahap pencarian. Orang tua/ibu marah, mengapa bayinya sampai bisa meninggal.
  3. Tawar-menawar ( bargaining). Dalam fase ini ortu/ibu akan mulai menawar, seandainya bayinya tidak meninggal ia akan melakukan hal tertentu asal bayinya tetap hidup.
  4. Depresi ( depression). Emosi predominan dalam fase ini adalah kesedihan berduka diiringi dengan kehilangan, mereka menolak dan menarik diri, orang tua mungkin akan mengalami kesulitan untuk kembali ke kehidupan normal sehari-hari.
  5. Menerima (acceptance). Fase akhir dari berduka meliputi penerimaan rasa kehilangan dan kembali ke aktivitas normal sehari-hari. Hal yang sangat personal ini membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Pengelolaan gangguan psikologis pada kehamilan dengan janin mati
Dalam memberikan bantuan dan konseling pada ibu dengan janin mati harus disesuaikan dengan fase dimana ia berada. Dengan memperhatikan hal itu diharapkan bantuan yang diberikan adalah bantuan yang tepat,bukan bantuan yang justru membuat keadaan semakin kacau.



Gangguan Psikologis pada Kehamilan dengan Ketergantungan Obat
Kehamilan dengan ketergantungan obat didefinisikan sebagai kondisi suatu kehamilan, dimana terdapat pola penggunaan zat psikoaktif dan zt lain yang memiliki implikasi berbahaya bagi wanita dan janinnya atau bbl (Varney,2007).

Jenis-jenis obat yang menimbulkan ketergantungan

Antikolinergik
Yaitu jenis obat yang memberikan efek menenangkan,membuat pemakai tidak atau kurang mampu merasakan sensasi. Banyak digunakan dalam tindakan medis seperti anestesi (pembiusan), meliputi Atropin, Beladona, dan Skopolamin.

Kanabis/ganja
Yaitu jenis-jenis obat yang tergolong dalam kelas Canabis sativa atau tanaman rami. Tanaman semak/perdu yang tumbuh secara liar di hutan yang mana daun, bunga, dan biji kanabis berfungsi untuk relaksan dan mengatasi keracunan ringan (infoksikasi ringan). Jenisnya antara lain adalah Mariyuana, Tetra hidrocanabinol (THC), dan Ganja.

Sedative pada susunan system saraf pusat
Yaitu bebagai jenis obat-obatan yang mampu menenangkan atau menjadikan fase relaksasi pada system SSP, yaitu barbiturate, klordiazepoksid, diazepam, flurazepam, glutetimida, dan meprobamat.

Stimulant pada SSP
Yaitu berbagai jenis obat-obatan yang mampu menstimulasi kerja SSP yang terdiri atas antiobesitas, amfetamin, kokain, metilfedinat, metaqualon, dan fenmetrazin.

Halusinogen
Yaitu berbagai jenis obat-obatan yang memberikan efek rasa sejahtera dan euphoria ringan, serta membuat pemakainya berhalusinasi, yaitu LSD, ketamin, meskalin, dimetiltriptamin, dan fensiklidin.

Opiate/narkotik
Opiate atau opium adalah bubuk yang dihasilkan langsung oleh tanaman yang bernama Poppy / Papaver Sonmiverum dimana didalam tanaman tersebut terkandung morfin yang sangat baik untuk menghilangkan rasa saikit dan kodein yang berfungsi sebagai antitusif.jenisnya antara lain adalah kodein, heroin, hidromorfon, meperidin, morfin, opium, pentazosin, dan tripelenamin.

Tanda dan gejala gangguan psikologis pada kehamilan dengan ketergantungan obat :

  1. Wanita dengan ketergantungan obat cenderung memiliki angka depresi, kepanikan, dan   fobia yang lebih tinggi dari pria, sehingga jika ia dalam masa kehamilan akan memberikan dampak buruk bagi janinnya.
  2. Wanita dengan ketergantungan obat merasa dirinya tidak hamil, sehingga ia cenderung mengingkari kehamilannya.
  3. Wanita hamil dengan ketergantungan obat sangat beresiko terlambat dalam melakukan perawatan prenatal. Mereka enggan berinteraksi dengan system perawatan kesehatan, terutama jika mereka mereka menggunakan obat-obatan terlarang yang menyebabkan meraka ketakutan terhadap implikasi hukum.
  4. Terdapat perasaan berdosa dalam dirinya karena kehamilannya, sehingga takut bayi yang ia kandung juga akn mengalami hal seperti dirinya.
  5. Bagi wanita dengan adiksi yang tidak mau bergerak ke siklus pemulihan, setiap kekhawatiran pada bayinya mungkin dikesampingkan oleh kekhawatirannya mendapatkan obat.
  6. Adakalanya kehamilan menjadi katalis untuk memulai siklus pemulihan pada wanita dengan ketergantungan obat.
  7. Penanganan Gangguan Psikologis pada Kehamilan dengan Ketergantungan Obat
  8. Ketergantungan obat merupakan suatu kondisi yang tercipta karena adanya pengaruh lingkungan dan factor kebiasaan
  9. Dalam penanganan permasalahan ini perlu dilakukan konseling dengan pendekatan behavioristik, dimana konselor membantu klien untuk belajar bertindak dengan cara-cara yang baru dan pantas, atau membantu mereka untuk memodifikasi atau mengeliminasi tingkah laku yang berlebih dan maladatif
  10. Tujuan dari konseling yang diberikan adalah untuk mengubah tungkah laku yang maladatif dsn belajar tingkah laku yang lebih efektif. Memfokuskan pada faktor-faktor yang memepengaruhi tingkah laku dan menemukan cara untuk mengatasi tingkah laku yang bermasalah. Dalam hal ini bidan harus mampu untuk mengubah tingkah laku maladatifnya, yang tentunya melalui tahapan-tahapan dan proses yang kontinu.
  11. Riwayat pasien yang lengkap dengan pertanyaan secara spesifik sangat penting diperoleh bertujuan mendeteksi penyalahgunaan zat, sehingga akan dapat diperoleh factor-faktor yang mempengaruhi ketergantungan obat pada wanita tersebut. Bidan harus mengerti bahwa wanita sering kali menggunakan lebih dari 10 zat, contohnya, wanita yang menggunakan sedatif mungkin juga menggunakan stimulasi
  12. Bidan harus mampu memberikan penguatan/reinforcement dan terus memberikan dukungan pada wanita dalam setiap tahap perubahan tingkah laku pemulihannya, dan juga menanamkan pengertian akan berharganya sang buah hati, yang dapat mendorong wanita untuk melakukan proses pemulihan. Bidan harus memberikan dukungan kontinu pada wanita saat melakukan pemulihan dan pola kekambuhan adiksi.
  13. Jadilah pendengar yang baik bagi wnaita dengan ketergantungan zat, karena sering kali penerimaan yang baik menimbulkan kepercayaan dan rasa tenang bagi wanita.
  14. Dengan perawatan yang terus-menerus,bidan dapat bekerja untuk meminimalkan komplikasi ibu dan janin, mendorong pengurangan zat dan mendukung siklus pemulihan.
  15. Bidan perlu berkolaborasi dengan tim kesehatan yang lain dalam proses pemulihan , yaitu dengan perawat, dokter, dan psikolog, serta melibatkan keluarga dalam proses pemulihan.


DAFTAR PUSTAKA

Mansur, Herawati. 2009. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan. Salemba Medika: Jakarta.
Read More

Tips Menjaga Anak dari Kasus Kekerasan Seksual

Orangtua kini tak bisa mempercayai seutuhnya orang-orang di sekitar anak, termasuk keluarga dekat. Ini belajar dari kasus pembunuhan yang dialami Angeline, gadis lucu yang ditemukan tewas mengenaskan di rumah orangtua angkatnya.

Bahkan, tak sedikit kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh paman, kakek, bahkan ayah kandungnya sendiri. Untuk mencegah agar kasus kekerasan seksual pada anak tidak menyebar, ada sederet tips yang bisa dilakukan orang tua.

Pertama, orangtua sebaiknya tidak begitu saja percaya kepada siapa pun termasuk keluarga terdekat dalam mengawasi anak. Hal ini merupakan peringatan buat banyak orang terutama bagi orang yang ‘berada’ bukan berarti anak Anda aman, hati-hati dengan pembantu, supir, satpam. Ada berapa banyak predator di rumah kita sendiri yang bisa saja memangsa anak-anak kita.

Kedua, orang tua hendaknya peduli dan memposisikan kedudukannya setara dengan anak. Dengan cara ini, anak akan lebih terbuka dan melaporkan apapun yang dialaminya kepada orangtua. Ketika orang tua hanya menyalahkan anak, anak menjadi takut pada orang tua. Hal ini membuat orang tua tidak memiliki sumber informasi yang benar. Perlakukan anak sebagai entitas yang setara agar anak dapat merasa nyaman terhadap orang tua.

Ada banyak kasus dimana orang tua tak memiliki kedekatan dengan anak sehingga anak tak mau terbuka dan cenderung takut disalahkan oleh orang tuanya. Ada banyak kasus anak sudah disodomi berkali-kali dan baru ketahuan beberapa tahun kemudian. Anak tidak lapor pada orang tua karena takut, orangtuanya kurang menghormati anak, sehingga anak jadi malas cerita apa yang dialaminya.

Ketiga, jika hubungan dengan anak telah terjalin dan menjadi dekat, ajarkan dan beri pemahaman pada anak bahwa tubuhnya merupakan barang berharga dan tidak sembarang orang boleh menyentuhnya.

Keempat, ajarkan anak untuk dapat membela diri bila ada orang lain yang berindikasi akan melakukan kejahatan seksual (berteriak, lari dan melaporkan pada orang tua).

Kelima, jika masyarakat sekitar mencurigai ada tindak kekerasan yang terjadi pada lingkungan, bertindaklah dengan melaporkan pada yang berwajib, JANGAN DIAM!!

(ZF/berbagai sumber)
Read More

Cara Membentengi Diri Dari Affair

Mungkin Anda berpikir bahwa jika seseorang tertarik pada seseorang yang lain selain pasangannya, maka pasti ada sesuatu yang salah/ada masalah di rumahnya. Pendapat ini tidak benar. Karena timbulnya kertarikan pada orang lain meski Anda memiliki pernikahan yang baik-baik saja atau bahkan sangat baik, adalah hal yang mungkin terjadi.

Satu-satunya benteng utama yang dapat menolak timbulnya sebuah affair adalah dengan adanya penetapan batas yang tegas.

Dalam budaya saat ini dimana laki-laki dan perempuan dimungkinkan untuk bekerja dengan interaksi yang sangat dekat, Anda harus memastikan bahwa Anda tidak menciptakan kemungkinan bagi timbulnya sebuah affair, terutama pada saat-saat dimana Anda mungkin sedang berada pada situasi yang rentan. Hindarkan diri Anda untuk berbagi cerita tepat setelah Anda bertengkar dengan pasangan Anda, atau tepat pada saat Anda ada di tengah-tengah sebuah permasalahan dengan pasangan Anda. Saat-saat dimana justru seseorang biasanya akan ‘terpeleset’, karena saat-saat seperti ini justru saat dimana Anda ‘jauh’ dari pasangan Anda dan Anda merasa butuh teman untuk ngobrol atau untuk share. 

Salah satu pintu yang biasanya menjadi awal bagi timbulnya sebuah affair adalah ketika seorang laki-laki dan perempuan yang  ‘hanya sekedar teman biasa’ dengan polosnya mulai mendiskusikan masalah dalam pernikahan mereka (masing-masing), satu sama lain. Mereka tanpa sadar mencoba berdiskusi dan saling bersimpati, kemudian akan mereka-reka cara dan menciptakan gambaran yang lebih baik tentang sebuah pernikahan, akan tetapi dengan seseorang yang salah.

Para peneliti dalam bidang hubungan pernikahan menyatakan bahwa penyebab utama kasus-kasus affair dalam pernikahan adalah karena tentang kerahasiaan kedekatan dengan seseorang dari luar pernikahan. Contohnya jika Anda setiap pagi berjalan dengan seorang perempuan yang bukan istri Anda dan istri Anda tidak mengetahuinya, maka berarti Anda telah melanggar kode etik Anda terhadap istri Anda, karena Anda menyimpan rahasia darinya tentang kedekatan Anda dengan orang lain. Jadi jika Anda memiliki sebuah hubungan dengan seseorang dan Anda merahasiakannya dari pasangan Anda, maka berarti Anda telah melanggar sebuah batasan yang penting.

Peneliti dalam kasus-kasus ketidaksetiaan dalam pernikahan juga menemukan bahwa orang-orang yang meninggalkan pernikahan mereka untuk mengejar sebuah hubungan yang lain dengan pasangan affair mereka, hanya 10% dari yang benar-benar akhirnya bertahan dengan pasangan affair mereka.

Peneliti juga menemukan bahwa pada umumnya mereka yang terlibat dalam affair menyatakan, bahwa mereka semua berharap affair tersebut tidak pernah terjadi, dan mereka berharap bahwa sebelum affair itu terjadi mereka dapat menyediakan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk dapat menyelamatkan pernikahan mereka.

BAGAIMANA CARA MEMBENTENGI DIRI DARI AFFAIR?


1. TETAPKAN BATASAN YANG JELAS
Tetapkan standard yang sesuai dengan nilai-nilai/norma agama yang Anda miliki dengan jelas. Pastikan Anda memiliki kesadaran dan pegangan yang kuat untuk membentengi diri Anda. Misalnya jika Anda menyadari bahwa diri Anda berharap untuk bertemu dengan seseorang secara rahasia, maka Anda mampu menyadari bahwa secara emosi Anda telah berjalan terlalu jauh. Atau Anda mampu menyadari, bahwa jika suatu ketika Anda tidak berniat untuk mengatakan pada pasangan lain tentang aktivitas yang melibatkan Anda dengan salah satu dari mereka, maka Anda tahu bahwa sebuah batas telah dilanggar.

2. PELIHARA HUBUNGAN DENGAN PASANGAN ANDA DENGAN BERKOMUNIKASI
Daripada menciptakan dinding kerahasiaan, berbicaralah pada pasangan Anda. Berbicaralah tentang semua yang terjadi dalam kehidupan Anda, termasuk tentang hubungan Anda dengan perempuan/laki-laki lain. Jangan simpan rahasia apapun. Tingkat kedekatan personal yang seperti ini akan membantu Anda untuk menjaga dan menetapkan limit dengan orang lain di luar pernikahan Anda.

3. PASTIKAN SITUASI ROMANTIS DI RUMAH TETAP ADA
Banyak dari kita yang berpikir bahwa soal sayang dan perhatian adalah sesuatu yang sudah jelas, akan tetapi ini sungguh bukan hal yang sepele. Cobalah untuk tetap secara kontinu melakukan hal-hal kecil (yang hanya Anda dan pasangan Anda yang mengetahuinya) untuk pasangan Anda dan pastikan pasangan Anda tahu bahwa Anda mencintai dan menyayanginya, dan bahwa Anda memikirkannya.

Telponlah pasangan Anda di tengah-tegah kesibukan Anda, hanya sekedar untuk mengobrol ringan selama beberapa menit. Ciptakan waktu untuk berdua saja pada malam akhir minggu. Setiap 2 bulan sekali atau terserah Anda, serahkan semua pekerjaan rumah kepada siapapun yang Anda percaya dan lewatkan waktu hanya berdua selama beberapa waktu/beberapa hari hanya dengan berduaan. Menjaga bara api ini di rumah akan membantu Anda untuk tidak merasa perlu mencari romantisme dan petualangan dengan orang lain di luar rumah.

4. JIKA ANDA TERTARIK DENGAN SESEORANG, JANGAN PERNAH BIARKAN ORANG ITU MENGETAHUINYA
Berbagi perasaan tentang rasa ketertarikan hanya akan membuka pintu bagi orang lain untuk juga berbagi perasaannya kepada Anda. Jika ketertarikan sudah saling diketahui (bersifat mutual), maka saat itulah masalah akan dimulai.

5. JAUHI LINGKUNGAN DIMANA KETIDAKSETIAAN CENDERUNG UNTUK DITERIMA/BERKEMBANG
Acara makan siang sembunyi-sembunyi, mampir di cafe setelah jam kerja, dan tempat-tempat/kesempatan-kesempatan lain seperti itu adalah tempat-tempat yang penuh dengan bahaya. Atau singkatnya, jauhi tempat/kesempatan dimana Anda biasanya minum dan menikmati waktu dimana pasangan Anda tidak ada disitu.
Read More